LAUT YANG TENANG TAK AKAN MENGHASILKAN PELAUT YANG TANGGUH

Wednesday, May 9, 2012

Belanda harus meminta maaf kepada masyarakat Maluku.

Walikota Leerdam, Belanda barat daya menyatakan Belanda harus resmi meminta maaf kepada masyarakat Maluku.

Dalam pidato tahun baru, kutip kantor berita ANP, Victor Molkenboer mengatakan malu dengan cara orang Maluku disambut di Belanda.
Pada upacara peringatan komunitas orang Maluku di Leerdam, walikota juga menyampaikan permintaan maaf. Menurutnya Belanda seharusnya mengikuti contoh dia.
KNIL
Tahun 1950, orang Maluku di Ambon memproklamasikan Republik Maluku Selatan, namun segera dilawan pihak Indonesia. Setelah kemerdekaan Indonesia, banyak orang Maluku, yang bertugas sebagai Tentara Kerajaan Hindia-Belanda (KNIL), harus dipecat.
Belanda menganggap situasi di Indonesia tidak aman untuk melakukan itu.
Janji kosong
Tahun 1951 sekitar 12.500 tentara KNIL Maluku diperintah berangkat ke Belanda untuk dipecat dari dinas militer. Rencananya, setelah itu mereka bisa kembali ke Indonesia. 
Belanda tidak memenuhi janji dan hal ini menimbulkan protes di antara masyarakat Maluku. Ketidakpuasan itu memicu beberapa aksi kekerasan yang dilakukan orang Maluku tahun 1970-an, termasuk pembajakan kereta api tahun 1975.
Awal baru
Komunitas warga Maluku di Leerdam cukup besar. Jika Belanda memahami situasi yang mereka alami saat itu, maka akan lebih mudah menutup halaman lama dari masa lampau dan memulai awal baru, kata Walikota Molkenboer.

Pernyataan walikota Leerdam ini merujuk pada peristiwa tahun 1950-an terkait cara Belanda “menyambut” kedatangan orang Maluku ke negeri kincir angin itu.
Kita tentu ingat, usai penyerahan kedaulatan RI tahun 1949, Presiden Soekarno meminta semua orang Belanda, orang Indo, prajurit KNIL (banyak di antaranya orang Maluku), dan simpatisan Belanda lainnya meninggalkan Indonesia. Dua tahun kemudian, Belanda mulai mengakut para prajurit KNIL beserta keluarganya ke Belanda. Mereka masuk ke Belanda melalui pelabuhan Rotterdam dengan menumpang 13 armada kapal laut. Jumlah mereka waktu itu sekitar 12.500 orang. Mereka inilah yang menjadi cikal-bakal keberadaan etnik Maluku di Belanda hingga sekarang.
Mayoritas generasi pertama yang datang ke Belanda tahun 1951 itu sudah meninggal.
“Enam puluh tahun lalu, waktu tiba di sini, mereka rata-rata berumur 20 tahun ke atas, sekarang sudah 80 tahun ke atas,” kata Victor Molkenboer.
Menggantungkan Harapan pada RMS
Ketika tiba di Belanda, mereka ditempatkan di barak-barak kecil. Makanan dibagikan melalui dapur umum. Kondisi hidup dan tempat tinggal mereka, boleh dikatakan buruk dan primitif. Bahkan ada yang ditempatkan di kamp yang dulu digunakan Jerman untuk menampung orang Yahudi. Mereka menerima biaya hidup yang sangat kecil jumlahnya. Padahal tidak sedikit keluarga Maluku itu punya banyak anak.
Mereka beranggapan, kondisi itu hanya untuk sementara saja. Begitu situasi darurat berlalu, secepatnya mereka akan kembali lagi ke Indonesia. Apalagi ketika itu pihak Belanda menjanjikan mereka akan kembali ke Indonesia. Karenanya mereka merasa tidak perlu menyesuaikan diri dengan kultur Belanda. Masih banyak wanita Maluku yang tetap berkebaya. Mereka mengajari anak-anaknya tetap berbahasa Indonesia. Bahasa Belanda perlu, tapi jangan sampai lupa bahasa ibu. Soalnya nanti mau kembali ke Indonesia.
Selain itu, mereka juga masih percaya bahwa RMS yang didirikan 25 April 1950 oleh Chris Soumokil itu akan didukung Belanda. Dengan begitu mereka akan bisa kembali ke kampung halaman, berkumpul dengan sanak saudara di pulau Ambon. Dan punya republik merdeka yang berdiri sendiri. Begitulah mimpi mereka.
Tapi harapan itu ternyata harapan kosong. Tidak ada tanda-tanda pemerintah Belanda membantu perjuangan RMS. Bahkan Belanda menolak mendukungan RMS. Ini tentu membuat orang-orang Maluku merasa “habis manis sepah dibuang”. Bagaimana tidak? Sebagai prajurit KNIL, mereka merasa berjasa telah membantu Belanda semasa perang. Inikah balasannya?
Pembajakan Kereta Api
Begitulah kondisi orang Maluku di awal kedatangan mereka ke Belanda kala itu. Diusir dari tanah air. Dipecat dari KNIL. Hidup dalam ketidakpastian. Mau kembali ke kampung halaman, nampaknya hanyalah fatamorgana. Ingin punya negara sendiri, dengan mengharap bantuan Belanda, tapi Belanda lepas tangan. Ingkar janji. Orang Maluku merasa perjuangannya selama ini untuk membantu Belanda, telah dikhianati!
Rasa frustrasi orang Maluku itu akhirnya meledak, mencapai puncaknya tanggal 2 Desember 1975. Tujuh pemuda Maluku membajak kereta api di Wijster, propinsi Drenthe. Peristiwa ini banyak disebut-sebut sebagai peristiwa pembajakan kereta pertama di dunia. Pembajakan yang berlangsung selama 12 hari ini, mengakibatkan jatuhnya tiga korban jiwa. Di antaranya, masinis kereta ditembak mati.
Pembajakan kereta kembali terulang tanggal 23 Mei 1977 di Punt, propinsi Drenthe. Pelakunya adalah sembilan pemuda Maluku. Pembajakan kali ini lebih berdarah dari pembajakan dua tahun sebelumnya. Dua sandera dan enam pembajak tewas dalam operasi penyelamatan.
Peristiwa pembajakan ini menimbulkan efek psikis berkelanjutan, khususnya bagi orang Belanda. Timbul prasangka diskriminatif. Jika orang Belanda naik kereta dan melihat di antara penumpang ada “kulit berwarna”, timbul perasaan tidak suka dan merasa tidak nyaman. Orang tua Belanda kuatir dan melarang anak-anak mereka bergaul dengan orang Maluku. Mereka masih dibayangi trauma pembajakan kereta yang baru saja terjadi.
Pembajakan itu juga berdampak pada berkurangnya simpati pemerintah Belanda terhadap perjuangan RMS. Apalagi sebelum pembajakan kereta itu, terkuak berita ada usaha menculik Ratu Juliana, yang berhasil digagalkan.
Separatis saat ini tak lagi realistis
Insiden itu sudah lama berlalu, namun masih membekas. Kendati dengan ‘sedikit terpaksa’ aspirasi orang Maluku di Belanda mulai diakomodir, kecuali mendirikan negera merdeka. Mereka kini sudah punya museum Maluku, juga mengelola yayasan untuk mengembangkan kebersamaan. Aktivitas apa saja yang mereka lakukan, Belanda pasti mendukung.
Mereka kini punya perkumpulan sendiri. Perkumpulan ini mengorganisir berbagai kegiatan. Di jalan Gooierserf di Huizen, kota kecil dekat Hilversum di Belanda, ada sebuah yayasan yang dikelola sejumlah orang Maluku. Di temboknya, terpampang bendera RMS dalam ukuran besar. Apakah bendera tadi menunjukkan gedung ini adalah markas pertemuan RMS?
Tahun demi tahun telah bergulir. Generasi pertama telah melahirkan generasi kedua. Generasi kedua juga sudah melahirkan generasi baru. Kondisi hidup generasi baru Maluku saat ini sudah jauh lebih sejahtera ketimbang generasi pertama. Mereka hidup dalam alam integrasi dengan berbagai kultur. Sistem pembauran (integrasi) yang digalakkan pemerintah Belanda selama beberapa dekade ini, sedikit banyak telah mengubah pola pikir mereka. Sistem ini juga ikut mengubah ideologi generasi muda tentang cita-cita RMS. Memperjuangkan RMS sudah dilihat dengan kaca mata lain. Mereka umumnya menyadari, separatisme tidaklah realistis.
http://kolomkita.detik.com/baca/artikel/2/1935/sby_belanda_dan_rms
Pemahaman ini pulalah yang membawa tokoh Papua bernama Nicholas Jouwe (pendiri OPM / Organisasi Papua Merdeka) yang sudah puluhan tahun tinggal di Negeri Belanda memutuskan untuk meninggalkan perjuangan Papua merdeka.
“Belanda menyuruh saya untuk membuat bendera, lambang negara, lagu kebangsaan dan menyiapkan dokumen-dokumen untuk persiapan berdirinya sebuah negara. Setelah semua itu saya siapkan ternyata tidak ada satu negarapun yang mendukung perjuangan saya, justru semua negara tetap menyatakan bahwa Irian Barat bagian dari wilayah Indonesia”. Kata Nicholas Jouwe kepada pers usai bertemua Taufik Kiemas/15 Januari 2010.
http://papuastory.wordpress.com/2010/01/15/nicholas-jouwe-86-accepts-indonesian-rule-in-west-papua/
Telah Bergeser
Generasi baru Maluku di Belanda memang bangga dengan bendera RMS. Mereka juga bangga dengan pejuang-pejuang RMS yang mencintai tanah leluhur mereka. Namun bendera itu lebih sebagai simbol kebanggaan masa lalu belaka. Cerita tentang RMS nyaris kedengaran bak mitos yang sering diceritakan orang tua mereka. Bahkan ada berani berkata sinis, bahwa usaha-usaha memperjuangkan RMS adalah ambisi sekelompok “elite” saja. Karena, sebetulnya mereka tahu betul, masa depan mereka telah menemukan pijakan yang jelas dan pasti, yaitu di tanah Belanda.
Ada semacam pergeseran pemahaman, sebagai dampak dari pergeseran nilai hidup. Teriakan lantang dari Belanda oleh kelompok yang peduli pada tanah leluhur mereka di Maluku, itu tidak lagi berkaitan dengan masalah politik masa lalu. Tetapi titik beratnya lebih pada masalah hak asasi manusia, pada pengembangan SDM orang Maluku untuk hidup lebih sejahtera. Pada masalah penegakan hukum dalam berbagai kasus, agar orang di orang Maluku bisa hidup lebih tertib dan saling menghargai. Dan pada penanganan masalah korupsi para pejabat Pemda yang membuat warganya tidak bisa sejahtera di tanah leluhurnya sendiri.
Kita berharap, pencerahan yang sama bisa terjadi di wilayah Papua. Nicholas Jouwe, Nick Messet, Frank Albert Joku dll adalah sebagian dari bukti kesadaran itu. Bahwa untuk memajukan tanah leluhur tak harus menggunakan politik separatisme. Tetapi membangun peradaban baru dengan cara-cara damai serta bermartabat. Agar kemajuan dan kesejahteraan yang diimpikan bisa dicapai dalam suasana DAMAI.

0 komentar:

Bale Ka Atas

 
abis baca komentar sadiki jua | biar katong baku kanal | salam hangat | par dong samua