LAUT YANG TENANG TAK AKAN MENGHASILKAN PELAUT YANG TANGGUH

Monday, May 21, 2012

Riwayat Sang Legenda

Abunawas



Ilahi lastu lilfirdausi ahla wala aqwa 'ala naril jahimi Fahab li tawbatan waghfir dzunubi fainaka ghafirud dzanbil adzimi.


Senandung syair yang menyentuh hati itu mengalun begitu merdu. Sembari menunggu datangnya shalat Maghrib dan Subuh, para jamaah shalat kerap melantunkan syair itu dengan syahdu di mushala dan masjid. Meski syair itu telah berumur hampir 11 abad, namun tampaknya tetap akan abadi.

Syair pengingat dosa dan kematian itu boleh dibilang begitu melegenda, seperti nama besar pengarangnya Abu Nuwas yang hingga kini tetap dikenang dan diperbincangkan. Abu Nuwas atau Abu Nawas adalah seorang penyair Islam termasyhur di era kejayaan Islam.

Orang Indonesia begitu akrab dengan sosok Abu Nuwas lewat cerita-cerita humor bijak dan sufi. Sejatinya, penyair yang bernama lengkap Abu Nuwas Al-Hasan bin Hini Al-Hakami itu memang seorang humoris yang lihai dan cerdik dalam mengemas kritik berbungkus humor.

Penyair yang dikenal cerdik dan nyentrik itu tak diketahui secara pasti tempat dan waktu kelahirannya. Diperkirakan, Abu Nuwas terlahir antara tahun 747 hingga 762 M. Ada yang menyebut tanah kelahirannya di Damaskus, ada pula yang meyakini Abu Nuwas berasal dari Bursa. Versi lainnya menyebutkan dia lahir di Ahwaz.

Yang jelas, Ayahnya bernama Hani seorang anggota tentara Marwan bin Muhammad atau Marwan II- Khalifah terakhir bani Umayyah di Damaskus. Sedangkan ibunya bernama Golban atau Jelleban seorang penenun yang berasal dari Persia. Sejak lahir hingga tutup usia, Abu Nuwas tak pernah bertemu dengan sang ayah.

Ketika masih kecil, sang ibu menjualnya kepada seorang penjaga toko dari Yaman bernama, Sa'ad Al-Yashira. Abu Nuwas muda bekerja di toko grosir milik tuannya di Basra, Irak. Sejak remaja, otak Abu Nuwas yang encer menarik perhatian Walibah ibnu A-Hubab, seorang penulis puisi berambut pirang. Al-Hubab pun memutuskan untuk membeli dan membebaskan Abu Nuwas dari tuannya.

Sejak itu, Abu Nuwas pun terbebas dari statusnya sebagai budak belian. Al-Hubab pun mengajarinya teologi dan tata bahasa. Abu Nuwas juga diajari menulis puisi. Sejak itulah, Abu Nuwas begitu tertarik dengan dunia sastra. Ia kemudian banyak menimba ilmu dari seorang penyair Arab bernama Khalaf Al-Ahmar di Kufah.

Sang guru memerintahkannya untuk berdiam di padang pasir bersama orang-orang badui untuk mendalami dan memperhalus pengetahuan bahasa Arabnya selama satu tahun. Setelah itu, dia hijrah ke Baghdad yang merupakan metropolis intelektual abad pertengahan di era kepemimpinan Khalifah Harun Ar-Rasyid.

Sebagai penyair yang nyentrik, masa mudanya penuh dengan gaya hidup yang kontroversial, sehingga membuat Abu Nawas tampil sebagai tokoh yang unik dalam khazanah sastra Arab Islam. Ketika masih muda, puisi-puisi yang dikarangnya kerap diinspirasi khammar (minuman keras), salah satunya khumrayat (penggambaran minuman keras). Adalah Dr Muhammad al-Nuwaihi dalam kitabnya Nafsiyyat Abi Nuwas menyebutkan Abu Nawas sangat tergantung pada minuman keras.

Sebagai penyair, tingkah laku Abu Nawas bisa disebut aneh, bahkan slebor. Tingkah lakunya membuat orang selalu mengaitkan karyanya dengan gejolak jiwanya. Ditambah sikapnya yang jenaka, perjalanan hidupnya benar-benar penuh warna. Namun, di mata Ismail bin Nubakht Abu Nuwas adalah seorang yang cerdas dan kaya pengetahuan.

''Saya tak pernah melihat orang yang mau belajar lebih luas dibanding Abu Nuwas. Tak ada seorang pun. Dengan ingatan yang sangat kaya, namun koleksi bukunya sangat sedikit. Setelah dia tutup usia, kami mencari rumahnya dan hanya menemukan sebuah buku di rumahnya,'' papar Ismail bin Nubakht dalam catatannya.

Berbekal kepiawaiannya menulis puisi, Abu Nawas bisa berkenalan dengan para pangeran. Sejak dekat para bangsawan, puisi-puisinya berubah memuja penguasa. Dalam kitab Al-Wasith fil Adabil 'Arabi wa Tarikhihi, Abu Nawas digambarkan sebagai penyair multivisi, penuh canda, berlidah tajam, pengkhayal ulung, dan tokoh terkemuka sastrawan angkatan baru.

Karir Abu Nuwas di dunia sastra pun makin kinclong setelah kepandaiannya menulis puisi menarik perhatian Khalifah Harun Al-Rasyid. Melalui perantara musikus istana, Ishaq al-Wawsuli, Abu Nawas akhirnya didapuk menjadi penyair istana (sya'irul bilad). Abu Nawas pun diangkat sebagai pendekar para penyair. Tugasnya menggubah puisi puji-pujian untuk khalifah.

Kegemarannya bermain kata-kata dengan selera humor yang tinggi membuatnya menjadi seorang legenda. Namanya juga tercantum dalam dongeng 1001 malam. Meski sering ngocol, ia adalah sosok yang jujur. Tak heran, bila dia disejajarkan dengan tokoh-tokoh penting dalam khazanah keilmuan Islam.

Kedekatannya dengan khalifah berakhir di penjara. Suatu ketika Abu Nawas membaca puisi Kafilah Bani Mudhar yang membuat khalifah tersinggung dan murka. Ia lantas di penjara. Setelah bebas, dia mengabdi kepada Perdana Menteri Barmak. Ia hengkang dari Baghdad setelah kejayaan Barmak jatuh pada tahun 803 M. Setelah itu, ia hijrah ke Mesir dan menggubah puisi untuk Gubernur Mesir, Khasib bin Abdul Hamid al-Ajami. Abu Nuwas akhirnya kembali lagi ke Baghdad, setelah Harun al-Rasyid meninggal dan digantikan Al-Amin.

Sejak mendekam di penjara, puisi-puisi Abu Nawas berubah menjadi religius. Kepongahan dan aroma kendi tuaknya meluntur, seiring dengan kepasrahannya kepada kekuasaan Allah. Syair-syairnya tentang pertobatan bisa dipahami sebagai salah satu ungkapan rasa keagamaannya yang tinggi.

Sajak-sajak tobatnya bisa ditafsirkan sebagai jalan panjang menuju Tuhan. Puisi serta syair yang diciptakannya menggambarkan perjalanan spiritualnya mencari hakikat Allah. Kehidupan rohaniahnya terbilang berliku dan mengharukan. Setelah 'menemukan' Allah, inspirasi puisinya bukan lagi khamar, melainkan nilai-nilai ketuhanan. Di akhir hayatnya, ia menjalani hidup zuhud. Seperti tahun kelahirannya yang tak jelas, tahun kematiannya terdapat beragam versi antara 806 M hingga 814 M. Ia dimakamkan di Syunizi, jantung Kota Baghdad.
Written By:  http://www.ubb.ac.id
Bila ingin membaca cerita Abu Nawas silahkan klik link di bawa ini :
Share
Read more »

Wednesday, May 9, 2012

Belanda harus meminta maaf kepada masyarakat Maluku.

Walikota Leerdam, Belanda barat daya menyatakan Belanda harus resmi meminta maaf kepada masyarakat Maluku.

Dalam pidato tahun baru, kutip kantor berita ANP, Victor Molkenboer mengatakan malu dengan cara orang Maluku disambut di Belanda.
Pada upacara peringatan komunitas orang Maluku di Leerdam, walikota juga menyampaikan permintaan maaf. Menurutnya Belanda seharusnya mengikuti contoh dia.
KNIL
Tahun 1950, orang Maluku di Ambon memproklamasikan Republik Maluku Selatan, namun segera dilawan pihak Indonesia. Setelah kemerdekaan Indonesia, banyak orang Maluku, yang bertugas sebagai Tentara Kerajaan Hindia-Belanda (KNIL), harus dipecat.
Belanda menganggap situasi di Indonesia tidak aman untuk melakukan itu.
Janji kosong
Tahun 1951 sekitar 12.500 tentara KNIL Maluku diperintah berangkat ke Belanda untuk dipecat dari dinas militer. Rencananya, setelah itu mereka bisa kembali ke Indonesia. 
Belanda tidak memenuhi janji dan hal ini menimbulkan protes di antara masyarakat Maluku. Ketidakpuasan itu memicu beberapa aksi kekerasan yang dilakukan orang Maluku tahun 1970-an, termasuk pembajakan kereta api tahun 1975.
Awal baru
Komunitas warga Maluku di Leerdam cukup besar. Jika Belanda memahami situasi yang mereka alami saat itu, maka akan lebih mudah menutup halaman lama dari masa lampau dan memulai awal baru, kata Walikota Molkenboer.

Pernyataan walikota Leerdam ini merujuk pada peristiwa tahun 1950-an terkait cara Belanda “menyambut” kedatangan orang Maluku ke negeri kincir angin itu.
Kita tentu ingat, usai penyerahan kedaulatan RI tahun 1949, Presiden Soekarno meminta semua orang Belanda, orang Indo, prajurit KNIL (banyak di antaranya orang Maluku), dan simpatisan Belanda lainnya meninggalkan Indonesia. Dua tahun kemudian, Belanda mulai mengakut para prajurit KNIL beserta keluarganya ke Belanda. Mereka masuk ke Belanda melalui pelabuhan Rotterdam dengan menumpang 13 armada kapal laut. Jumlah mereka waktu itu sekitar 12.500 orang. Mereka inilah yang menjadi cikal-bakal keberadaan etnik Maluku di Belanda hingga sekarang.
Mayoritas generasi pertama yang datang ke Belanda tahun 1951 itu sudah meninggal.
“Enam puluh tahun lalu, waktu tiba di sini, mereka rata-rata berumur 20 tahun ke atas, sekarang sudah 80 tahun ke atas,” kata Victor Molkenboer.
Menggantungkan Harapan pada RMS
Ketika tiba di Belanda, mereka ditempatkan di barak-barak kecil. Makanan dibagikan melalui dapur umum. Kondisi hidup dan tempat tinggal mereka, boleh dikatakan buruk dan primitif. Bahkan ada yang ditempatkan di kamp yang dulu digunakan Jerman untuk menampung orang Yahudi. Mereka menerima biaya hidup yang sangat kecil jumlahnya. Padahal tidak sedikit keluarga Maluku itu punya banyak anak.
Mereka beranggapan, kondisi itu hanya untuk sementara saja. Begitu situasi darurat berlalu, secepatnya mereka akan kembali lagi ke Indonesia. Apalagi ketika itu pihak Belanda menjanjikan mereka akan kembali ke Indonesia. Karenanya mereka merasa tidak perlu menyesuaikan diri dengan kultur Belanda. Masih banyak wanita Maluku yang tetap berkebaya. Mereka mengajari anak-anaknya tetap berbahasa Indonesia. Bahasa Belanda perlu, tapi jangan sampai lupa bahasa ibu. Soalnya nanti mau kembali ke Indonesia.
Selain itu, mereka juga masih percaya bahwa RMS yang didirikan 25 April 1950 oleh Chris Soumokil itu akan didukung Belanda. Dengan begitu mereka akan bisa kembali ke kampung halaman, berkumpul dengan sanak saudara di pulau Ambon. Dan punya republik merdeka yang berdiri sendiri. Begitulah mimpi mereka.
Tapi harapan itu ternyata harapan kosong. Tidak ada tanda-tanda pemerintah Belanda membantu perjuangan RMS. Bahkan Belanda menolak mendukungan RMS. Ini tentu membuat orang-orang Maluku merasa “habis manis sepah dibuang”. Bagaimana tidak? Sebagai prajurit KNIL, mereka merasa berjasa telah membantu Belanda semasa perang. Inikah balasannya?
Pembajakan Kereta Api
Begitulah kondisi orang Maluku di awal kedatangan mereka ke Belanda kala itu. Diusir dari tanah air. Dipecat dari KNIL. Hidup dalam ketidakpastian. Mau kembali ke kampung halaman, nampaknya hanyalah fatamorgana. Ingin punya negara sendiri, dengan mengharap bantuan Belanda, tapi Belanda lepas tangan. Ingkar janji. Orang Maluku merasa perjuangannya selama ini untuk membantu Belanda, telah dikhianati!
Rasa frustrasi orang Maluku itu akhirnya meledak, mencapai puncaknya tanggal 2 Desember 1975. Tujuh pemuda Maluku membajak kereta api di Wijster, propinsi Drenthe. Peristiwa ini banyak disebut-sebut sebagai peristiwa pembajakan kereta pertama di dunia. Pembajakan yang berlangsung selama 12 hari ini, mengakibatkan jatuhnya tiga korban jiwa. Di antaranya, masinis kereta ditembak mati.
Pembajakan kereta kembali terulang tanggal 23 Mei 1977 di Punt, propinsi Drenthe. Pelakunya adalah sembilan pemuda Maluku. Pembajakan kali ini lebih berdarah dari pembajakan dua tahun sebelumnya. Dua sandera dan enam pembajak tewas dalam operasi penyelamatan.
Peristiwa pembajakan ini menimbulkan efek psikis berkelanjutan, khususnya bagi orang Belanda. Timbul prasangka diskriminatif. Jika orang Belanda naik kereta dan melihat di antara penumpang ada “kulit berwarna”, timbul perasaan tidak suka dan merasa tidak nyaman. Orang tua Belanda kuatir dan melarang anak-anak mereka bergaul dengan orang Maluku. Mereka masih dibayangi trauma pembajakan kereta yang baru saja terjadi.
Pembajakan itu juga berdampak pada berkurangnya simpati pemerintah Belanda terhadap perjuangan RMS. Apalagi sebelum pembajakan kereta itu, terkuak berita ada usaha menculik Ratu Juliana, yang berhasil digagalkan.
Separatis saat ini tak lagi realistis
Insiden itu sudah lama berlalu, namun masih membekas. Kendati dengan ‘sedikit terpaksa’ aspirasi orang Maluku di Belanda mulai diakomodir, kecuali mendirikan negera merdeka. Mereka kini sudah punya museum Maluku, juga mengelola yayasan untuk mengembangkan kebersamaan. Aktivitas apa saja yang mereka lakukan, Belanda pasti mendukung.
Mereka kini punya perkumpulan sendiri. Perkumpulan ini mengorganisir berbagai kegiatan. Di jalan Gooierserf di Huizen, kota kecil dekat Hilversum di Belanda, ada sebuah yayasan yang dikelola sejumlah orang Maluku. Di temboknya, terpampang bendera RMS dalam ukuran besar. Apakah bendera tadi menunjukkan gedung ini adalah markas pertemuan RMS?
Tahun demi tahun telah bergulir. Generasi pertama telah melahirkan generasi kedua. Generasi kedua juga sudah melahirkan generasi baru. Kondisi hidup generasi baru Maluku saat ini sudah jauh lebih sejahtera ketimbang generasi pertama. Mereka hidup dalam alam integrasi dengan berbagai kultur. Sistem pembauran (integrasi) yang digalakkan pemerintah Belanda selama beberapa dekade ini, sedikit banyak telah mengubah pola pikir mereka. Sistem ini juga ikut mengubah ideologi generasi muda tentang cita-cita RMS. Memperjuangkan RMS sudah dilihat dengan kaca mata lain. Mereka umumnya menyadari, separatisme tidaklah realistis.
http://kolomkita.detik.com/baca/artikel/2/1935/sby_belanda_dan_rms
Pemahaman ini pulalah yang membawa tokoh Papua bernama Nicholas Jouwe (pendiri OPM / Organisasi Papua Merdeka) yang sudah puluhan tahun tinggal di Negeri Belanda memutuskan untuk meninggalkan perjuangan Papua merdeka.
“Belanda menyuruh saya untuk membuat bendera, lambang negara, lagu kebangsaan dan menyiapkan dokumen-dokumen untuk persiapan berdirinya sebuah negara. Setelah semua itu saya siapkan ternyata tidak ada satu negarapun yang mendukung perjuangan saya, justru semua negara tetap menyatakan bahwa Irian Barat bagian dari wilayah Indonesia”. Kata Nicholas Jouwe kepada pers usai bertemua Taufik Kiemas/15 Januari 2010.
http://papuastory.wordpress.com/2010/01/15/nicholas-jouwe-86-accepts-indonesian-rule-in-west-papua/
Telah Bergeser
Generasi baru Maluku di Belanda memang bangga dengan bendera RMS. Mereka juga bangga dengan pejuang-pejuang RMS yang mencintai tanah leluhur mereka. Namun bendera itu lebih sebagai simbol kebanggaan masa lalu belaka. Cerita tentang RMS nyaris kedengaran bak mitos yang sering diceritakan orang tua mereka. Bahkan ada berani berkata sinis, bahwa usaha-usaha memperjuangkan RMS adalah ambisi sekelompok “elite” saja. Karena, sebetulnya mereka tahu betul, masa depan mereka telah menemukan pijakan yang jelas dan pasti, yaitu di tanah Belanda.
Ada semacam pergeseran pemahaman, sebagai dampak dari pergeseran nilai hidup. Teriakan lantang dari Belanda oleh kelompok yang peduli pada tanah leluhur mereka di Maluku, itu tidak lagi berkaitan dengan masalah politik masa lalu. Tetapi titik beratnya lebih pada masalah hak asasi manusia, pada pengembangan SDM orang Maluku untuk hidup lebih sejahtera. Pada masalah penegakan hukum dalam berbagai kasus, agar orang di orang Maluku bisa hidup lebih tertib dan saling menghargai. Dan pada penanganan masalah korupsi para pejabat Pemda yang membuat warganya tidak bisa sejahtera di tanah leluhurnya sendiri.
Kita berharap, pencerahan yang sama bisa terjadi di wilayah Papua. Nicholas Jouwe, Nick Messet, Frank Albert Joku dll adalah sebagian dari bukti kesadaran itu. Bahwa untuk memajukan tanah leluhur tak harus menggunakan politik separatisme. Tetapi membangun peradaban baru dengan cara-cara damai serta bermartabat. Agar kemajuan dan kesejahteraan yang diimpikan bisa dicapai dalam suasana DAMAI.
Share
Read more »

Seribu Rupiah, kontroversi atau Unik?

Uang saribu ni kalu bukang masu di kotak amal/celengan, pasti dong simpang akang par uang kombali, jarang par mau pi stor akang di bank, tapi katong harus sadar, ini kepeng saribu rupia ni paleng merakyat, karna tiap hari  akang ada di pasar, di dalam oto, di pangkalan ojek, sampe di dalam oma2 dong pung kaeng salele, heheeee,. coba ale dong pi di apertemen , hotel berbintang, diskotik, deng tampa2 mewah yang orang kaya seng tau diri deng pejabat2 dalam muka korupsi biasa pigi di akang tu, pasti kepeng saribu ni jarang mau laia akang, dong cuma slak deng kartu kredit kalu seng kasi uang merah kong dong bilang, "suda akang pung kambali par ose jua"...
kastinggal dong jua biar korupsi tapi uang itu dong yang punya jadi mau bilang apa,..
temen2 yang gk ngerti dialek Ambon, maaf ya dari pada membudayakan bahasa inggris mending pake dialeg Ambon saja, biar wawasan Nusantara kita bertambah dikit,, heheheee piss out ada inggrisnya juga neh..
Beberapa hari yang lalu saya iseng iseng search di paman Goegle tentang keunikan Maluku, tapi yang banyakan muncul kok keunikan uang seribuan, dia antaranya, icon Smile di kancing Baju kapitan Pattimura , kontaradiksi letak pulau di baliknya dan senyum Kapitan Pattimura yang Ramah..
begini cerita Uniknya :
parang dan senyum yang ramah 

Banyak yang bilang, katanya Mantan Wapres Siswono Yudo Husodo pernah mengkritisi kontradiksi Gambar Kapitan Pattimura berpose dengan senyum yang ramah ala nyong ambon, akan tetapi bawa parang terhunus, siapa yang bikin yah desain gambar pahlawan ini? menurutnya senyum kapitan Pattimura harus lebih Garang dan sangar ketika menghunus Parang. tapi saya search kok gak ada tuch kritikan Pak WAPRES tentang ini.



Pada Zamannya Orang Maluku adalah Pencetus pertama Revolusi pertanian, khususnya tanaman cengkeh, parang yang merupakan lambang keberanian dan jiwa patriotis sebenarnya adalah Alat untuk membuka hutan,bertani Cengkeh dll, nanti setelah datang Portugis Brengsek dan Belanda Jahannam Barulah Parang menjadi Lambang perlawanan,jadi wajarlah kapitan Pattimura tidak salempang parang dengan wajah Ganas di Uang seribu itu Om….

kontradiksi gambar pulau Maitara danTidore 
 
 Desain Pulau Maitara dan Tidore yang yang di lukis dari Restoran Floridas di Ternate berbanding terbalik dengan foto yang di ambil juga dari Restoran itu.



Ini juga ngawur, orang yang belum pernah ke Ternate kok seenaknya berkesimpulan, lihat Angle gambar  yang satu ini 

Gambar ini jepretnya dari pantai Gambesi, jadi memang bukan dari Hotel Floridas angle desain yang di Uang Seribuan.
Kapitan Pattimura Hobby Karaoke?.

Pattimura yang gagah berani ternyata tidak cuma piawai bertempur melawan penjajah Belanda, namun juga pandai ber-karaoke di saat senggangnya.
Kalo yang ini sih Cuma Bisa bisanya orang yang gk ada kerjaan aja, heheeeee

Kapitan Gayus tambunan
Ini yang menyulut rasa benci 

Pattimura itu Kami (almascatie)

Beberapa hari yang lalu beredar lelucon ala sotosop buatan anak negeri ini di Internet, lelucon kalo boleh dibilang, sayah salut dengan teknik olah digitalnya yang bisa membuat kita terpingkal-pingkal, sebuah gambar yang dibuat oleh orang super kreatif, untuk memberi kritikan bagi Negeri ini seperti yang lainnya. Akan tetapi disisi lain ada rasa perih yang menyengat di sudut hati, rasa perih yang menjalar ke seluruh tubuh yg membuat sayah ingin menangis sekaligus tertawa melihat gambar itu. Pada gambar itu wajah Pattimura di Mata Uang Rp. 1.000 di ganti dengan wajah Gayus Tambunan. Gayus Tambunan sang pembuka kehancuran negeri ini dengan mempermainkan Indonesia bak rumahnya sendiri yang bisa diobrak-abrik, Gayus yang seakan-akan Tuhannya negeri ini yg tak bisa disentuh oleh siapapun. Gayus menjelma di lembaran seribu rupiah menggantikan wajah Pattimura lengkap dengan menenteng “Parang”.
Maaf, tapi bagi sayah pribadi, seseorang yang lahir di Maluku, seseorang yang hidup ditengah-tengah hutan sagu, gelombang laut Banda, seseorang yang lebih banyak belajar tentang kepahlawanan dan budaya orang lain dari pada belajar tentang lingkungan kami sendiri. Pattimura adalah kebanggaan kami, Pattimura adalah jiwa kami yang membangun negeri untuk kami sendiri. Ditangan Pattimura “Parang” untuk membela rakyat, di tangan Gayus, Parang untuk membelah rakyat Negeri ini.

Nunu oli
Nunu seli
Nunu karipatu
Patue karinunu

[Thomas Matulessy]

Saya katakan kepada kamu sekalian (bahwa) saya adalah beringin besar, dan setiap beringin besar akan tumbang. Tetapi beringin lain akan ganti. (Demikian pula) saya katakan kepada kamu sekalian (bahwa) saya adalah batu besar, dan setiap batu besar akan terguling. Tapi batu lain akan ganti

Dia Thomas Matulessy sang Kapitan Pattimura telah mengucapkan kalimat-kalimat saat menghadapi tiang gantungan dari Belanda atas perlawanannya membebaskan negeri ini dari cengkeraman Belanda, Dulu, saat watak asli budaya zaman “Hena Masa Waya Lotto Honimua”. Kalimat patriotis yang mampu membakar jiwa mereka saat itu dan generasi berikutnya, kalimat tegas sekaligus penyerahana tanggung jawab yang sangat besar bagi Pattimura-pattimura baru untuk menjadi Batu bagi penindasan di negeri ini, menjadi Beringin besar bagi para penjajah negeri ini yang ingin merampas cengkeh dan pala di ewang-ewang cucu alifuru. Pattimura adalah teladan jujaro mungare Maluku yang telah mengakar sebagai sebuah kebanggan kami untuk menunjukkan jiwa heroisme dan patriotisme ditengah merosotnya identitas lokal, nasional oleh kepungan globalisasi.
Pattimura adalah simbol perlawanan kami terhadap penindasan dan ketidak adilan. Di tangan kanan tergengam dengan erat sebuah “Parang” yang tidak hanya dapat diartikan secara sempit sebagai simbol dari “kekerasan”, dimana apapun yang terjadi “Parang” akan berbicara, akan tetapi ini adalah simbol untuk menaklukkan dunia bagi kami, parang menjadi senjata untuk menaklukkan ganasnya Ewang-ewang di belantara Nusa Ina, dengan parang kami jaga dan kami pelihara setiap benih cengkeh, pala dan sagu demi kemakmuran kami. Di tangan kiri, “Salawaku” sebagai perisai demi mempertahankan setiap tapak kaki negeri ini, sambil berteriak “Mena” yang berarti “Maju kedepan” menyongsong masa depan yang lebih baik.
Sungguh, kadang bagi kami orang-orang Maluku merasa telah tersingkir dari ruang bernama “Indonesia”, sekian lama tertinggal dari pembangunan ditambah disayat-sayat oleh konflik yang makin menghancurkan negeri ini. Negeri ini hanyalah menjadi perhatian ketika RMS melempari “Indonesia” dengan kotoran, Selebihnya?

Demi asin lautan yang menghitamkan kulit ari
Kesetiaan adalah bahasa lumba-lumba yang mestinya di mengerti sebagai cinta
Nasib anak negeri yang hanya bertengger sebagai janji
Telah menjelma bisa pari sejak hati terlukai
Kami bukan ikan-ikan mati yang bisa dilempar sebagai tumbal negara ini
Demi kesetiaan berpuluh tahun yang hanya menorehkan luka
Anak-anak hitam, bau bia, bau laut kini memanen kata merdeka
Sekali berucap LAWAMENA selebihnya parang dan salawaku akan berkibar
Bahasa perlawanan sejak Nuku hingga Pattimura adalah bahasa kesetiaan
Kepada negeri airmata dan darah tertumpah sesungguhnya karena cinta
Tetapi Jakarta…
Tetapi Jakarta telah menarik balik pabrik gula di Laimo
Jakarta telah mengambil stasiun oceanologi dan menaruhnya di Bali
Jakarta telah membiarkan kami sejak 19 Januari 1999 tanpa hati
Lalu kesetiaan macam apalagi yang harus kami beri
Untuk hanya sekadar jadi petinju dan penyanyi di jantung negeri
Bukankah Soekarno bilang tanpa kami Indonesia tak jadi apa-apa
Seribu ton kopra yang kami bawa ke istana dimana kini harganya?
Maka demi asin lautan yang mengeritingkan rambut kami
Sumpah Pattimura muda telah kami ikrarkan di seluruh pelosok negeri
Biar peluru menembus kulit kami tetap menerjang
Meminta keadilan sebagai harga atas nasib anak negeri

Selebihnya hanyalah bait-bait pada Sajak “Sumpah Pattimura Muda” karangan Bang Dino Umahuk sajalah yang mampu bercerita tentang segalanya. Bercerita tentang apa yang kami rasakan di sudut Indonesia ini, Sayah masih ingat cerita Bapak dulu, ketika Soekarno datang ke Nusa Ina. Beliau meresmikan sebuah kota yang sekarang menjadi pusat Kabupaten Maluku Tengah, kota yang diberi nama “Masohi” yang merupakan budaya gotong royong memetik cengkeh dikalangan masyarakat Seram Selatan. Masih terngiang desis suara Bapak yang menceritakan tentang pidato Soekarno yang berapi-api, masih teringat sebuah ucapan yang kadang dilupakan oleh mereka yang merasa memiliki Indonesia “Indonesia Tanpa Maluku Bukan Indonesia, Maluku Tanpa Indoensia Bukan Maluku”. Namun itu mungkin sudah terlupakan, kalimat itu hanya sekedar kata mutiara untuk membuat kami terus terbuai oleh angin surga dari barat.

Sayah hanya Memohon untuk di Hentikan Penyebaran lelucon gambar itu, anda yang membuatnya mungkin tidak berpikir sampai kemana kami bisa terluka, aku tahu mungkin niat anda hanyalah untuk menjelaskan betapa bahwa Gayus telah merasuki sistem ini, tapi disisi lain anda telah melukai hati rakyat Maluku. Pattimura-pattimura muda telah sering dilukai oleh negeri ini, Tolong jangan anda menambah luka itu… menyamakan Gayus dengan Pattimura hanyalah sebuah tindakan yang sangat tidak CERDAS. karena “Bangsa Yang Besar adalah Bangsa Yang Menghargai Jasa Para Pahlawannya..!!!”

smile di kancing baju Kapitan Pattimura bila di lihat pake kaca pembesar.

Kebetulan Saja Om, heheee
Share
Read more »

Saturday, April 28, 2012

SAHABAT BAHARI


Sahabat… !!!mungkin telah banyak kita mendengar kata-kata itu, namun bagiku ketika aku mendengar kata itu menyibak suatu makna yang dalam yang terukir dalam benaku, mejalin persahabatan merupakan hal yang terindah dan tak ternilai harganya, dengan persahabatan hidup kita akan penuh warna yang akan memberikan suatu cerita dalam setiap episodenya, namun butuh waktu dan usaha untuk dapat menemukan sahabat sejati yang dapat memberikan warna-warna yang indah dalam hidup kita.
Seorang sahabat akan memberikan pengaruh pada diri kita, karena itu Rosulullahpun pernah mengilustrasikan sebuah persahabatan dengan “si penjual minyak dan pandai besi” bahkan seorang ulama pernah mengatakan “ kalau kau ingin melihat kualitas diri seseorang maka lihatlah dengan siapa dia berteman”
Makna dari persahabatan yang aku alami banyak mengisahkan suatu cerita yang aku sendiri sulit untuk memulainya karena terlalu banyak kisah yang aku alami bersama sahabatku tercinta…
Dengan sahabat aku bisa berbagi, dengan sahabat aku lalui hidup penuh duri, dengan sahabat aku bisa berseri… Aku ingin mengisahkan suatu cerita yang membuatku selalu tertawa jika mengingat peristiwa itu.
Welcome Perty di kota Padang
Kementrian Negara Pemuda dan Olahraga (KEMENEGPORA)  Deputi bidang Pemberdayaan Pemuda menyelanggarakan kegiatan kepemudaan dibidang bahari dan kelautan yang bernama “Kapal Pemuda Nusantara” atau disingkat KPN setiap tahun, yang pesertanya adalah pemuda-pemuda pilihan yang mewakili seluruh propinsi di Indonesia dari Sabang sampai Merauke ini adalah kegiatan yang sangat Luar biasa, karena tiap provinsi hanya boleh mengikut sertakan satu orang putri dan satu orang putra setiap tahunnya, bisa di bayangkan kan,  bagaimana putra putri terbaik di setiap propinsi harus mengeluarkan jurus dan bertarung untuk bisa terpilih mewakili propinsinya..
Alhamdulillah saya (Shaifullah Bin Mahmud) terpilih mewakili propinsi Maluku Utara pada hajatan KPN tahun2007 yang berlansung sejak tanggal 17 hingga 30 agustus 2007.
Selama dalam kegiatan ini banyak hal yang dapat dipelajari, antara lain meningkatkan disiplin diri, menumbuhkan rasa cinta akan laut, menyadarkan kita bahwa potensi kelautan Indonesia sangat kaya akan hasil lautnya sehingga dengan kekayaan itu sebenarnya kita mampu melunasi hutang negara, hanya saja pengolahan secara optimallah yang kurang karena kurangnya perhatian masyarakat dan kerjasama bersama swasta dan pemerintah untuk pengolahan tersebut. Kegiatan ini juga menumbuhkan rasa persaudaraan yang tinggi ketika kami melewati bermacam hal dan kegiatan bersama, saat bahagia pada acara-acara hiburan, saat cemas ketika melewati samudra pasifik dengan Kapal Republik Indonesia (KRI) teluk Sibolga 536, saat sedih ketika berpisah dan kembali kepropinsi masing-masing, saat bermasalah ketika berbeda pendapat, dan banyak hal lainnya yang terjadi selama kegiatan KPN berlangsung

KRI Teluk Sibolga
.KPN 2007 telah membuat saya merasa sangat cinta akan laut Indonesia dan tidak takut dengan laut, bahwa keunikan dari Indonesia adalah sebuah negara yang dihubungkan oleh laut disetiap sudutnya. Indonesia yang dengan keunikan tiap adat dan budayanya. Dan dalam kesempatan bertemu berbagai macam sahabat yang berbeda propinsi telah membuat semangat kami sebagai pemuda penerus bangsa berkobar, dan dengan bangga dan lantang menyerukan yel-yel KPN “Pemuda = Maju ... Olahraga = Jaya ... Pemuda, Olahraga = Maju, Tegap, Jayalah Pemuda! 3x ... Siapa Kita? = Indonesia ... NKRI = HARGA MATI!”.
Kegiatan KPN 2007 merupakan kegiatan Kapal Pemuda Nusantara yang ke-3 dimana kegiatan ini diinisiasikan oleh Kementrian Negara Pemuda dan Olah Raga, dengan menggandeng rekan dari MABES AL dan Departemen Kelautan dan Perikanan serta bekerjasama dengan 3 buah propinsi sebagai tempat berlangsungnya kegiatan tersebut, yang dibuka di Sumatera Barat bersamaan dengan Festival Internasional Pemuda dan Olahraga II (FIPOB II), lalu Propinsi Bengkulu, dan berakhir di Ibukota Negara, DKI Djakarta.
Adapun macam kegiatan KPN 2007 yaitu Pembukaan FIPOB di Padang Sumatera Barat, panen udang, materi sekaligus praktek Basic Safety Training (Pertolongan pertama dilaut), praktek berlayar sekaligus penangkapan ikan, praktek pembuatan abon ikan, outbond, olah raga setiap pagi setelah sholat subuh, aksi bersih-bersih mushola dan makam Syekh Burhanuddin di desa ulakan-tapakis Pariaman, Undangan serta pengenalan Pariaman oleh Bapak Drs. Muslim Kasim selaku Bupati Padang Pariaman, Mengunjungi KRI TANJUNG NUSANIVE 973 dan mendapat pengetahuan kebaharian, Dialog bedah film “Naga Bonar Jadi2”, bakti sosial, Upacara di Gubernuran Sumbar serta diundang dalam pengukuhan PASKIBRAKA SUMBAR, homestay di SUMBAR dan di kelurahan Berkas -BENGKULU, Audiensi dengan Gubernur Bengkulu, diskusi seputar kepemudaan dan perikanan dan kelautan serta pariwisata kota Bengkulu, presentasi budaya oleh setiap Propinsi, semunar-seminar dan diskusi, praktek berwirausaha, mengunjungi objek wisata di Bukittinggi (SUMBAR) dan Bengkulu, mengunjungi rumah Presiden Soekarno di Bengkulu, dengan KRI TELUK SIBOLGA 536 menuju Tanjung Priok, materi-materi selama di KRI, Monumen Nasional, Taman Mini Indonesia Indah, Spiritual Emmotional Intelektual (SEI) Empowerment, audiensi dengan Menteri Pemuda dan Olahraga RI (Bapak DR. Adhyaksa Dault, SH, M.Si, serta berkunjung ke kebun Raya Bogor.

 KRI TANJUNG NUSANIVE 
Banyak kenangan dan pengalaman yang lahir setelah kegiatan Kapal Pemuda Nusantara 2007, dan yang sangat sederhana yaitu persaudaraan yang tumbuh masih terus berlanjut hingga kini, dan saya masih sangat ingin mengenang memories bersama dengan alya(Pontianak), vivi(Padang), louiz(Papua), vindo(Bengkulu), ari(Aceh), cid ello(NTT), elly(DKI), ema(DKI), robbi(DKI), sigit(DKI), majid(Ambon), Firman(Pontianak), Andi(Medan), Eka (Papua), Dian (Padang), Agus(Bali), Vio(Palembang), Joko(Palembang), Monic(Manado), David (Manado), Rian(Bandung), Dilla (Gorontalo), Subhan(Sultra), Citra(Makasar), Ryan+Deri(Kepri), dan semua teman-teman yang saya rundukan. Karena segalanya terasa indah saat bersama. NKRI, Harga Mati ... Hidup Pemuda!!!! (Shaifullah Bin Mahmud – Purna KPN 2007)
+-//dyacrend-alone//


Share
Read more »

Friday, April 27, 2012

Andai Waktu Bisa Terulang

Jika ada sesuatu yang sangat berharga, maka itu adalah waktu. Siapapun orangnya, tidak akan bisa mengulang setiap waktu yang sudah terlewatkan. Tidak peduli seberapa kaya orang itu, seberapa penting jabatannya, waktu tidak mau diajak kompromi. Ia akan terus berjalan.Tidak peduli apakah orang-orang mampu melewatinya dengan menyenangkan, atau sebaliknya.Setiap orang, dimanapun ia berada, memiliki waktu 24 jam dalamsehari. Tidak ada yg mendapatkan lebih, meski hanya satu menit saja. Semua sama. Tidak kurang, tidak lebih. Jika kemudian waktu bisa terulang, tentu kita semua mengharap melakukan hal-hal yang baik saja. Memperbaiki kesalahan yang pernah kita lakukan. Sayangnya, waktu memang tidak akan pernah bisa  terulang.

 
Teman, untuk mencapai segala macam kesempurnaan, memang selalu dibutuhkan proses trial and error. Oleh sebab itu, jika kemarin atau hari ini Anda melakukan kesalahan, carilah kesempatan untuk memperbaikinya. Jika kita gagal melakukan sesuatu hal, bukan berarti itu akhir segalanya. Belajarlah dari kesalahan, dan berusahalah untuk tidak mengulanginya. Belajarlah memaafkan diri sendiri & memaafkan orang lain, karena tidak ada manusia yang sempurna! Yang lalu biarlah berlalu. Mungkin akan menjadi pengalaman selama hayat. Bagaimanapun diri Anda di masa lalu, itu tidaklah penting. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana diri Anda di masa depan!

Keep fight.

inbox ane ahira
Share
Read more »

SURAT DARI AYAH

Aku tuliskan surat ini atas nama rindu yang besarnya hanya Allah yang tahu. Sebelum kulanjutkan, bacalah surat ini sebagai surat seorang laki-laki kepada seorang laki-laki, surat seorang ayah kepada seorang anak
 
.
 
Nak, menjadi ayah itu indah dan mulia. Besar kecemasanku menanti kelahiranmu dulu belum hilang hingga saat ini. Kecemasan yang indah karena ia didasari sebuah cinta. Sebuah cinta yang telah terasakan bahkan ketika yang dicintai belum sekalipun kutemui.
Bacalah sejarah Nabi-Nabi dan Rasul dan temukanlah betapa nasehat yang terbaik itu dicatat dari dialog seorang ayah dengan anak-anaknya.
Meskipun demikian, ketahuilah Nak, menjadi ayah itu berat dan sulit. Tapi kuakui, betapa sepanjang masa kehadiranmu di sisiku, aku seperti menemui keberadaanku, makna keberadaanmu, dan makna tugas kebapakanku terhadapmu. Sepanjang masa keberadaanmu adalah salah satu masa terindah dan paling aku banggakan di depan siapapun. Bahkan dihadapan Allah Swt, ketika aku duduk berduaan berhadapan dengan-Nya, hingga saat usia senja ini.
Nak, saat pertama engkau hadir, kucium dan kupeluk engkau sebagai buah cintaku dan ibumu. Sebagai bukti, bahwa aku dan ibumu tak lagi terpisahkan oleh apapun jua.
Tapi seiring waktu, ketika engkau suatu kali telah mampu berkata: “TIDAK”, timbul kesadaranku siapa engkau sesungguhnya. Engkau bukan milikku, atau milik ibumu Nak. Engkau lahir bukan karena cintaku dan cinta ibumu. Engkau adalah milik Allah. Tak ada hakku menuntut pengabdian darimu. Karena pengabdianmu semata-mata seharusnya hanya untuk Allah Swt.
Nak, sedih, pedih dan terhempaskan rasanya menyadari siapa sebenarnya aku dan siapa engkau. Dan dalam waktu panjang di malam-malam sepi, kusesali kesalahanku itu sepenuh -penuh air mata dihadapan-Nya. Syukurlah, penyesalan itu mencerahkanku.
Sejak saat itu Nak, satu-satunya usahaku adalah mendekatkanmu kepada pemilikmu yang sebenarnya. Membuatmu senantiasa berusaha memenuhi keinginan pemilikmu. Melakukan segala sesuatu karena Nya, bukan karena kau dan ibumu. Tugasku bukan membuatmu dikagumi orang lain, tapi agar engkau dikagumi dan dicintai Allah.
Inilah usaha terberatku Nak, karena artinya aku harus lebih dulu memberi contoh kepadamu dekat dengan Allah. Keinginanku harus lebih dulu sesuai dengan keinginan-Nya. Agar perjalananmu mendekati-Nya tak lagi terlalu sulit.
Kemudian, kitapun memulai perjalanan itu berdua, tak pernah engkau kuhindarkan dari kerikil tajam dan lumpur hitam. Aku cuma menggenggam jemarimu dan merapatkan jiwa kita satu sama lain. Agar dapat kau rasakan perjalanan ruhaniah yang sebenarnya.
Saat engkau mengeluh letih berjalan, kukuatkan engkau karena kita memang tak boleh berhenti. Perjalanan mengenal Allah swt tak kenal letih dan berhenti, Nak. Berhenti berarti mati, inilah kata-kataku tiap kali memeluk dan menghapus air matamu, ketika engkau hampir putus asa.
Akhirnya Nak, kalau nanti, ketika semua manusia dikumpulkan di hadapan-Nya, dan kudapati jarakku amat jauh dari Nya, aku akan ikhlas. Karena seperti itulah aku di dunia. Tapi, kalau boleh aku berharap, aku ingin saat itu aku melihatmu dekat dengan Allah Azza Wa Jalla. Aku akan bangga Nak, karena itulah bukti bahwa semua titipan bisa kita kembalikan kepada pemiliknya.
Dari ayah yang senantiasa merindukanmu.....
 
 
 
 sumber :gado-gado info publik
Share
Read more »

CELEBES SCOOTER PARTY VII 2012



VESPA-VESPA UNIK DI FESTIVAL SCOOTER PARTY DI MAKASSAR

Kegiatan BHakti sosial CSP 2012, (saya dan sodara2 dari Sarkodes di barisan paling kanan)

Seorang pengendara skuter bergaya ekstrem menunjukan kebolehannya, pada acara Festival Scooter Party
Sekitar 3.000 peserta Celebes Scooter Party (CSP) VIII ikut ambil bagian dalam CSP yang baru pertama diadakan di Kota Makassar, Sulawesi Selatan. Para penggemar scooter ini ikut konvoi sekaligus memperkenalkan Kota Makassar terutama sektor pariwisata, Minggu, 8 April 2012 lalu.
Ketua Panitia I CSP VII Rafi Rodjali mengungkapkan ajang ini merupakan bentuk silahturahmi semua pencinta Vespa. Peserta bukan hanya dari Sulawesi tapi juga seluruh Indonesia bahkan Malaysia. "Ada dari Sumatera hingga Merauke, Papua. Tak kurang 3.000 motor dan 7.000 penonton hadir dalam kegiatan nasional ini. Kami juga memperkenalkan seperti apa Kota Makassar," paparnya

Seorang pemilik skuter asal Malaysia unjuk kebolehan
Aneka bentuk skuter modifikasi dipamerkan pada acara
Sejumlah pengunjung memperhatikan sebuah Skuter bergaya ekstrem yang dipajang
Ratusan motor skuter model lama terparkir
Sesi 'drag race' skuter pada acara Festival Scooter Party
Rafi menambahkan, "Saat penutupan, kami memberikan sertifikat dengan mengumpul ribuan Vespa terbanyak di Indonesia yang dihadiri oleh Wali Kota Makassar Ilham Sirajuddin."

Rafi mengatakan CSP VII ini menghadirkan bintang tamu, Souljah. "CSP event tahunan, tahun lalu diadakan di Gorontalo. Ini adalah CSP terbesar dan pertama," katanya.

Menurut Rafi, Wali Kota Makassar Ilham Arief Sirajuddin berpesan agar para penggemar scooter selalu memperhatikan keselamatan atau safety reading saat mengendarai Vespa. "Selain itu Vespa adalah kendaraan yang tidak pernah luntur dan akan tetap ada," ungkapnya

Para penggemar scooter diberi kesempatan memperlihatkan kebolehan di depan Wali Kota Makassar, dan juga modifikasi dari Vespa yang dimiliki.


Sumber: aneka10.blogspot.com Share
Read more »

Sejarah Vespa Yang Legendaris


Sejarah vespa dimulai lebih dari seabad silam, tepatnya 1884. Perusahaan Piaggio didirikan di Genoa, Italia pada tahun 1884 oleh Rinaldo Piaggio. Bisnis Rinaldo dimulai peralatan kapal. Tapi di akhir abad, Piaggio juga memproduksi Rel Kereta, Gerbong Kereta, body Truck, Mesin dan Kereta api. Pada Perang Dunia I, perusahaannya memproduksi Pesawat Terbang dan Kapal Laut. Pada tahun 1917 Piaggio membeli pabrik baru di Pisa dan 4 tahun kemudian Rinaldo mengambil alih sebuah pabrik kecil di Pontedera di daerah Tuscany Italia. Pabrik di Pontedera inilah yang mana menjadi Pusat produksi pesawat terbang beserta komponen-komponennya (baling-baling, Mesin dan Pesawat) Selama Perang Dunia II, pabrik di Pontedera membuat P108 untuk mesin Pesawat dua penumpang dan Versi Pembom.

Pada akhir Perang Dunia II, pabrik Piaggio dibom oleh pesawat sekutu. Setelah perang usai, Enrico Piaggio mengambil alih Piaggio dari ayahnya (Rinaldo Piaggio). Pada saat itu perekonomian Italia sedang memburuk, Enrico memutuskan untuk mendisain alat transportasi yang murah. Enrico memutuskan untuk fokuskan perhatian perusahaannya pada masalah personal Mobility yg dibutuhkan masyarakat Italia. Kemudian bergabunglah Corradino D’Ascanio, Insinyur bidang penerbangan yang berbakat yang merancang, mengkonsep dan menerbangkan Helikopter Modern Pertamanya Piaggio.

D’Ascanio membuat rancangan yang simple,ekonomis, nyaman dan juga elegan. D’Ascanio memimpikan sebuah revolusi kendaraan baru. Dengan mengambil gambaran dari tehnologi pesawat terbang, dia membayangkan sebuah kendaraan yang dibangun dengan sebuah “Monocoque” atau Unibody Steel Chassis. Garpu depan seperti Ban mendarat sebuah pesawat yang mana mudah untuk penggantian ban. Hasilnya sebuah design yg terinspirasi dari pesawat yang yang sampai saat ini berbeda dengan kendaraan yang lain.

Maka pada 1945, konstruksi alternatif tersebut ditemukan. Awalnya memang sebuah konsep sepeda motor berkerangka besi dengan lekuk membulat bagai terowong. Mengejutkan, ternyata bagian staternya dirancang dengan menggunakan komponen bom dan rodanya diambil dari roda pesawat tempur. Guna mengoptimalkan bentuk dan keamanan penggunanya, pabrikan yang kala itu masih terbilang sebagai usaha ''kaki lima'' merancang papan penutup kaki pada bagian depan. Proyek ini langsung dipimpin oleh Corradino d'Ascanio. Karena itu, hak paten pun segera dapat mereka kantongi.

Hasilnya, muncullah pertama kali produk motor dengan seri MP5. Kendaraan ini berteknologi sederhana tetapi punya bentuk yang amat menarik, bagai binatang penyengat (lebah/tawon) karena bentuk kerangkanya. Namun, karena bentuk penutup pengaman yang bagai papan selancar itu, sejumlah pekerja di pabrik Piaggio pun bahkan mengatakannya sebagai motor Paperino. Harap diingat, Paperino adalah sindiran sinis untuk tokoh Donald Duck (bebek). Maka, d'Ascanio pun putar akal untuk memperbaiki model tersebut.

D’ascanio hanya membutuhkan beberapa hari untuk mengonsep ulang bentuk desain kendaraannya dan prototipnya diberi nama MP6. Saat Enrico Piaggio melihat protototip MP6 itu, ia secara tak sengaja berseru “Sambra Una Vespa” (terlihat seperti Tawon). Akhirnya dari seruan tak sengaja itu, diputuskan kendaraan ini dinamakan ‘Vespa’ (tawon dalam bahasa Indonesia). Pada April 1946, prototip MP6 ini mulai diproduksi masal di pabrik Piaggio di Pontedera, Italia. Pada Akhir 1949, telah di produksi 35000 unit dan dalam 10 tahun telah memproduksi 1 Juta unit dan pada pertengahan tahun 1950. Selama tahun 1960-an dan 1970-an Vespa menjadi simbol dari revolusi gagasan pada waktu itu.
Perkembangan selanjutnya, produk ini ternyata laris diserap pasar Prancis, Inggris, Belgia, Spanyol, Brazil, dan India -- selain di pasar domestik produk ini laku bagai kacang goreng. Selain itu, India pun memproduksi jenis dan bentuk yang sama dengan mengambil mesin Bajaj. Jenisnya adalah Bajaj Deluxe dan Bajaj Super. Sejumlah pihak lantas mengajukan lamaran untuk joint membuat Vespa. Maka pada 1950 munculah Vespa 125 cc buatan Jerman.
Pada saat itu banyak negara lain yang mencoba membuat produk serupa, tetapi ternyata mereka tak sedikit pun mampu menyaingi Piaggio. Di antara pesaing itu adalah Lambretta, Heinkel, Zundapp, dan NSU. Bagi masyarakat Indonesia, produk Lambretta dan Zundapp, sempat populer di era 1960-an. Selidik punya selidik, fanatisme terhadap Vespa ternyata muncul akibat ciri dasar bentuk motor ini yang selalu dipertahankan pada setiap produk berikutnya. Bahkan saat mereka terbilang melakukan ''revolusi'' bentuk pada produk baru, Vespa 150 GS, kekhasan pantat bahenol masih terasa melekat.

Produk 150 GS -- kala itu dikenal sebagai Vespamore dan hampir selalu tampil di tiap film tahun 1960-an -- memang kemudi dan lampu sorotnya mulai dibuat menyatu. Tetapi, secara keseluruhan apalagi bentuk pantatnya, benar-benar masih membulat. Dan cerita terus berlanjut saat ini dengan model generasi baru Vespa, mempersembahkan Vespa ET2, Vespa ET4, Vespa Granturismo dan Vespa PX150. Vespa bukan hanya sekedar Scooter tapi salah satu Icon besar orang Italia.
Share
Read more »

Bale Ka Atas

 
abis baca komentar sadiki jua | biar katong baku kanal | salam hangat | par dong samua