LAUT YANG TENANG TAK AKAN MENGHASILKAN PELAUT YANG TANGGUH
Showing posts with label Maluku. Show all posts
Showing posts with label Maluku. Show all posts

Sunday, March 30, 2014

lirik Lagu CINTA SAKOTA - CHEPPY BAKARBESS

.........sekian lama
katong dua pung cinta
........tapisa nona
.kenangan bersama dikota ambon
.....cuma jadi carita
.
......baru pernah nona
...beta rasa cinta par se
......macam bagini
.
.....saat katong pu cinta
menyatu kembali disudut kota ambon
.
..katong dua sakota deng kawasaki
....lewat muka pangkalan taksi
.....mampir di toko anastasia
....dengar lagu bilang cinta..
.kanal tatusu nona katong puNG hati
....akang sama deng lagu ini..
.
..lanjut bajalan ka karang panjang
....disitu yang lebih romantis
....belok turun nona polo rapat
...sampe dapa gong perdamaian
katong pu cinta damai bajalan lurus
.....lewat jalur A.Y.PATTI.....
.
.
#Lirik Lagu Ambon 
Share
Read more »

lirik lagu KANAPA - HELMY

 Uu..uu..Nona ee..
,
Barang Ale Kanapa
Sampe Musti Manangis
Beta Ada Disini
Cuma Par Se Sandiri
.
Barang Dengar Dar Sapa,
nona Coba Se Bilang..
Itu Yang Orang Bilang,
Samua Tu Putar Bale
.
Nona Bet Sayang Ale,
Nona Bet Cinta Ale.
Seng Mungkin Bet Mau Bage
Cinta Yang Su Tapele.
.
Nona Bet Sayang Ale,
Nona Bet Cinta Ale.
Seng Mau Ada Yang Laeng
Samua Cuma Par Ale..
.
.
#Lirik_Lagu_Ambon (SP)

Share
Read more »

KENANGAN TRANSIT PASSO - Yochen Amos

Waktu Katong Dua
Baku Dapa
Saat Beta Libur
Di Tana Belanda
.
Breda Jadi Saksi
Katong Dua Pung Cinta
Yang Su Taikat
Dalam Hati
Ho....
.
S'karang Waktu Akang
Su Berlalu..
Katong Baku Dapa
Di Kota Ambon..
.
Cinta Suci Mekar kembali
Taikat Dalam Hati
Tabungkus Sampe Mati..
.
Di Terminal Transit Passo
Katong Dua Baku Dapa
Sambunyi Dar Mama deng Papa
Asal Mo Dengar
Se Bilang Perliv..
.
Terminal Balong Fungsi
Katong Pung Cinta Baru Resmi
Se Musti Pi Kastinggal Beta
.
Ho.....
Waktu Vacancy Su Mo Abis
Se Musti Bale Ke Belanda
Beta Sandiri Tahang Dada
Hati Ancor Su Seng Berdaya
.
Cuma Satu Di Hati
Yang Beta Inga Sampe Mati
Se Kiss You Bilang
Ik Ben Perliv....
.
.
#Lirik_Lagu_Ambon (SP)
Share
Read more »

Thursday, March 6, 2014

18 Kota Ikut Meramaikan Festival Legu Gam 2014









Sebanyak 18 kota di Indonesia yang tergabung dalam Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (Apeksi) Wilayah VI akan ikut meramaikan Festival Legu Gam yang digelar Kesultanan Ternate, di Ternate, Maluku Utara tanggal 1 hingga 14 April 2013.

Ketua Panitia Festival Legu Gam, Arifin Djafar, di Ternate, Minggu (23/2/2013), mengatakan keikutsertaan 18 kota yang tergabung dalam Apeksi Wilayah VI pada Festival Legu Gam tersebut merupakan hasil kerja sama antara Apeksi Wilayah VI dengan Pemkot Ternate.

Festival Legu Gam merupakan kegiatan tahunan Kesultanan Ternate untuk merayakan ulang tahun Sultan Ternate Mudhafar Sjah. Kegiatan ini telah masuk dalam kalender tahunan kegiatan wisata Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

Arifin mengatakan 18 kota tersebut, pada Festival Legu Gam, akan mempromosikan potensi pariwisata dan investasi di daerah masing-masing dengan harapan wisatawan dan investor yang hadir di Festival Legu Gam akan tertarik pula ke daerah mereka.

Khusus untuk Kota Ternate, pada Festival Legu Gam tersebut, selain akan mempromosikan potensi pariwisata dan investasi, juga akan memperkenalkan kekhasan kulinernya melalui kegiatan pameran kuliner tradisional Ternate.

Arifin yang juga Wakil Wali Kota Ternate itu mengatakan, Festival Legu Gam akan menampilkan berbagai kegiatan menarik, seperti pertunjukan budaya dan kesenian tradisional Kesultanan Ternate, serta kesultanan lainnya di Malut.

Salah satu budaya Kesultanan Ternate yang akan disuguhkan pada festival tersebut adalah ritual adat perayaan ulang tahun Sultan Ternate Mudhafar Sjah, yang akan dipusatkan di Kedaton Kesultanan Ternate dengan melibatkan ribuan masyarakat adat setempat.

Selain itu, menurut Arifin, pada festival tersebut akan digelar pula kegiatan karnaval budaya, pameran, dan seminar nasional tentang budaya, serta Expo Malut untuk mempromosikan potensi pariwisata dan investasi di daerah ini.

Sejumlah Duta Besar Negara sahabat, sejumlah Menteri Kabinet Indonesia Bersatu, serta tokoh nasional, termasuk ribuan wisatawan dari dalam dan luar negeri, akan hadir pada Festival Legu Gam tersebut. 


Source : tempo traveling
Share
Read more »

Wednesday, March 5, 2014

INI DIA ASLINYA KAPITAN PATTIMURA

KAPITAN PATTIMURA DI LUKIS OLEH VERHEUL WAKTU DI TANGKAP TAHUN 1817

KAPITAN PATTIMURA ketika memakai tudung atau dalam bahasa LATU yaitu (lahatajjo), sketsa dibuat oleh anak buah Verhuell berinisial C.B.Z.

postingan ini saya copas dari http://leonwakano.wordpress.com/

Penulis : Luthfi Pattimura dan Kisman Latumakulita
ISBN : 987-979-9538-5-2
Penerbit : LSKPI Press, cetakan pertama, Desember 2012

Pada Mei 2001 di Jakarta, saya menjadi tim perumus seminar LEMHANAS KSA IX. Seorang jenderal TNI waktu itu sempat bertanya, “Mas Luthfi ada punya hubungan dngn Pahlawan Pattimura?”

Sbagai seorang yg bermarga Pattimura teramat sangat sering saya ditanyai seperti yg diajukan sang jenderal. Semenjak itu hanya satu hal yang harus saya buktikan yakni buka mulut, buka mulut, dan buka mulut atau akan ditanyai terus.

Memang, teman2, smenjak buku Sejarah Perjuangan Kapitan Pattimura Pahlawan Indonesia yg ditulis oleh Kapten TNI M. Sapiya (1959), nilai sejarah perjuangan Maluku satu ini sperti terbatas pada dua pihak, “benar” lawan “salah”.

Sekalipun Perang Pattimura diterangkan oleh fakta, sosok Kapitan Pattimura mestinya tidak menjadi polemik andai semua variabel fakta peristiwanya sudah d’kemukakan sedari awal. Polemik dan kontroversi mengasumsikan ada yang diabaikan. Itulah teman-teman, persoalan yg menjadi fokus sorotan ini buku.

Pada tgl 15 Mei 1817, jasad Van den Berq dan istrinya tergeletak di benteng duurstede, kota Saparua. Residen Belanda itu tewas bersama bala tentaranya stelah diserang oleh brigade Kakehan, “Kopassusnya” orang Seram.

Menjelang seratus tiga puluh tujuh tahun, drama pertempuran itu kemudian ditulis oleh Kapten TNI M. Sapiya tetapi tampil dalam bentuk buku yg paling banyak mengundang polemik dan kontroversi, berjudul diatas. Buku itu pertama kali dicetak pada 1954, kedua pada 1957, dan cetakan ketiga pada 1959. Inti buku itu dan karenanya menjadi sumber polemik dan kontroversi adalah di aliaskannya Thomas Matulessy sebagai Kapitan Pattimura.

Dmana masalahnya, teman2? Hidup basudara orang Maluku yg brlandaskan nilai sendi adat, pasti taulah marga itu apa, gelar itu apa, kapitan itu apa, Pattimura itu apa, dan akhirnya jg tau peristiwa 15 Mei 1817 itu sbenarnya peristiwa apa.

Jk ditilik dari 1 sisi, pnjelasannya sderhana. Trjadinya pristiwa 15 Mei 1817 dterangkan oleh fakta; pasukan Kapitan Pattimura menyerang Belanda. Tp itu fakta ttang variabel peristiwa yakni waktu dan tempat. Bukan fakta ttng Thomas Matulessy itu Kapitan Pattimura. Bahkan sejauh penulisan sejarah yg ada, hanya variabel itu yg di besar2kan, yg slalu muncul brulang-ulang. Ditilik dari sisi lain, dari sudut pandang orang awam, mndengar cerita ttng peristiwa 15 Mei 1817 dpt menjadi alasan utk menanyakan yg lebih peka lagi; dari mana faktanya peristiwa itu di sebut “Perang Pattimura?”

Kalau definisi fakta menyerang drumuskan sbagai tindakan sseorang atau skelompok orang mndatangi kelompok lain utk melawan, maka, mengapa hrs trjadi penyerangan, sperti apa, bgaimana, dan sterusnya. Kebutuhan mencocokan hubungan antara variabel fakta peristiwa ?tak hanya waktu dan tempat? membawa konsekuensi dlm bgaimana pninggalan jejak2 yang ada diisolasi, diangkat, dan diterangkan. Hubungan antara pelaku dan peristiwa, antara motif dan kejadian, sebab-akibat sama pentingnya dengan hubungan antara sejarah dan keterangan fakta; harus tidak menyerang akal sehat kita.

Jk tentara Belanda d’Saparua hrs tunduk dbawah ketiak pasukan Thomas Matulessy khusus pd 15 Mei 1817, seorang anak kecil pun dpt berpikir betapa wajarnya peristiwa itu disebut “Perang Matulessy” atau “Perang Saparua” seperti halnya ada penyebutan peristiwa yg bernama “Perang Hoamoal”, “Perang Hitu”, “Perang Iha”, atau “Perang Alaka”. Pelogikaan itu penting krn alasan logis yg trsedia ada lebih dari cukup. Istilah “Perang Pattimura” tak kan ada tanpa ada yg mengenal Kapitan Pattimura.

Thn 1980, pemerhati sjarah Pattimura, Nur Tawainella mengemukakan dalil mengenai nama Kapitan Pattimura tetapi malah tambah parah. Dlm artikelnya berjudul Menjernihkan Sejarah Pattimura di majalah Panji Masyarakat nomor 295, edisi 1 Juni, Tawainella bilang bahwa Matulessy adalah hasil pengadopsian nama berdasarkan dialektika orang Maluku yg memanggil “Ahmad” Lussy selalu disingkat “Mat”: jadilah migrasi nama dari “Mat Lussy”, menjadi “Matulessy”. Sekalipun ada keinginan yg mungkin dpt dimengerti, namun cara Tawainella merupakan contoh kemujuran analogi dialektika yang luar biasa, tapi malah salah kaprah; lebih mengaburkan daripada menjelaskan.

Debat mengenai Matulessy atau Ahmad Lussy bukanlah masalah dlm buku ini melainkan, Kapitan Pattimura, Thomas Matulessy, dan Ahmad Lussy sebagai tiga sosok yg memang ada tetapi mereka bukan anak-anak dari satu bapak.

Kecuali Kapitan Pattimura dan Thomas Matulessy, sosok Ahmad Lussy bahkan baru muncul seratus tahun sesudah peristiwa 15 Mei 1817 ketika, para kapitan Waehata Telu kembali akan menyerang Belanda di Piru pada 1919. Rencana bocor krn Walanda sudah mencium aksi itu terlebih dahulu lewat informasi dari siwalete Kakehan, atau marinyo (humas) yaitu Ahmad Lussy.

Ketika penulisan sejarah Pattimura banyak dikitari bab2 gelap, tak terpikir oleh kita betapa dekatnya nilai sendi adat dan filsafat hidup orang basudara Maluku dngn kebenaran; pd Pemilu pertama 1955 Sapiya diusung Partai Komunis Indonesia ?PKI untuk menjadi anggota DPR.

Jika polemik dan kontroversi merupakan lahan subur bagi doktrin kontradiksi PKI, maka buku Sapiya tampak disiapkan jauh sebelumnya untuk mengacak-acak kerukunan hidup orang basudara yg berlandaskan nilai sendi adat melalui penulisan buku sejarah. Setelah Gestapu ?Gerakan 30 September 1966, Sapiya ditangkap karena terlibat partai terlarang.

Sekalipun kebanyakan orang telah menyadari buku Sapiya tdk mengilhami kepercayaan diri para pewaris sejarah Pattimura, bukan berarti buku ini merupakan serangan terhdp kesalahan penulisan Pattimura, meski ada beberapa alasan dari sana; menelaah motif ketika sejarah itu dtulis, bahkan menelaah kondisi sosial masyarakat ketika peristiwa itu terjadi.

Buku ini bukan tentang sejarah perjuangan Kapitan Pattimura meskipun ada beberapa segi yg disentuh. Mungkin akan djumpai pula tema-tema lain dalam buku ini, tapi sepanjang bahasannya hanya menjurus ke satu ruang dan waktu ketika Belanda di hajar pada Mei 1817 di Saparua.

Pd saat kami memberikan perhatian khusus atas berbagai nuansa polemik dan fakta yg diabaikan, diam2 kami berpikir perhatian ini akan sangat penting. Tp, begitu kumpulan fakta ini yg mungkin masih kurang tepat, kami juga harus bersiap-siap menghadapi resiko memalukan jika buku ini menawarkan kesimpulan yang tdk tepat.

Interpretasi memang tdk selamanya benar. Kepada pembaca, khususnya basudara Maluku yg berlandaskan sendi adat, kami mohon maaf atas segala kekurangan isi buku ini.

Jk pembaca sudah melihat buku Sapiya, sumber yg dgunakan utk buku itu adalah apa yg disebut “Raport Porto”, sebuah catatan seorang guru bernama Risakotta, bertanggal 23 Nopember 1817. Sayangnya, Risakotta menyerahkan “Raport Porto” itu kepada overste Groot, komandan kapal perang Belanda Freget Maria Reygersbergen yg berada d’pelabuhan Porto usai pertempuran di Haria dan Porto seperti ditulis dosen sejarah Univ Padjadjaran Bandung, I.O Nanulaitta dlm makalahnya “Kronologis Jalannya Perang Pattimura”.

Jadi, “Raport Porto” yg dianggap sebagai sumber penulisan sejarah Pattimura itu, bukan di dpt dari penulisnya langsung atau ahli warisnya.

Sebelum timbul pertanyaan mengapa orang Latu yg menyimpan banyak fakta peristiwa 15 Mei 1817 tetapi baru d’ungkapkan pd Juni 1980, tentu hrs kami ungkapkan dsini bahwa orang Latu secara subyektif punya pengalaman buruk mempercayai orang dan, secara obyektif karena fakta pelaku penyerangan itu menyangkut keterlibatan para kapitan yg brasal dari tiga batang air; Tala, Eti, dan Sapalewa.

Mula2 buku ini hanya memusatkan perhatian pd brigade Kakehan sbgai fakta pelaku penyerangan dan berhenti pada 15 Mei 1817 sebab, data yg ada hanyalah sebatas fokus sorotan itu. Data itu, misalnya, pernyataan Z.M.A Matulessy, ahli waris Thomas Matulessy bahwa inisiatif penyerangan terhadap Belanda di Saparua berasal dari Saniri Tiga Batang Air dalam rapat kilatnya di Nusa Ina seperti ditulis di Koran Nasional edisi 11 Mei 1993. Termasuk, keterangan tetua adat negeri Latu dalam sbuah naskah yg dsusun pd Juni 1980, brjudul “Terbukalah Sejarah Asli Kapitan Pattimura”.

Bahwa, pleno adat Kakehan sebagai penjelas sikap dasar para kapitan tiga batang air ketika dihadapkan pd pilihan membantu anak cucu Nusa Ina yg sedang teraniaya di Saparua, pastilah. Tp, spektrum sikap dasar Kakehan terlalu luas seperti halnya pengertian ttng penganiayaan yg dilakukan penjajah trhdp masyarakat. Data yg hrs diolah dngn demikian mengolah pula faktor2 yg bekerja di belakangnya. Informasi yg dibutuhkan dngn dmikian tdk sebatas data yg ada di tangan.

Berbagai keterangan tentang Kakehan mmang kami dengar sejak usia ‘bolang’. Namun sifat dari apa yg terdengar itu hrs diakui membutuhkan telaah yg tdk sebatas kondisi dan tempat cerita itu dsampaikan.

Karena Kakehan menyangkut hasil pleno adat Saniri Aipasa, dan Saniri Aipasa menyangkut kelompok Patasiwa yg akirnya menyangkut komitmen silaturrahmi majelis adat tiga batang air, bahkan menyangkut agama kuno Nusa Ina yg menelurkan sifat dlm memutuskan cara memelihara warisan nilai budaya nenek moyang bahkan, menyangkut tanggapan budaya lokal terhadap hak universal, kami hrs melapisi penglihatan kami yg relevan dngn apa yg disebut antropologi, sosiologi bahkan penglihatan yg relevan dngan theologi, termasuk geologi ketika sifat dan watak manusia berkaitan erat dngn kondisi lingkungan sekitar mereka tinggal. Itu kami lapisi satu di atas yg lain.

Begitu kami kupas itu lapisan2, tampak, apa yg membuat fakta sejarah Pattimura dikitari bab2 gelap salahsatunya krn ini; spektrum organisasi Kakehan yg terlalu luas bahkan penuh kerahasiaan.

Masuk akal, mengapa para analis sejarah Pattimura pusing begitu fakta pelaku peristiwa ini langsung menyangkut Kakehan.

Pd tgl 5-7 Nop 1993, para ahli, analis, dan pemerhati sejarah, bersama pemerintah terlibat perlawanan argumentatif dlm seminar ttang sejarah perjuangan Pattimura di Kodam XV Pattimura, Ambon.

Kami masih ingat kata2 mantan Raja Latu, Sabri Pattimura, salah seorang peserta seminar tersebut ttg pernyataan Frans Hitipeuw yg waktu itu mewakili Direktorat Sejarah dan Purbakala Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan RI dlm seminar tersebut bahwa, “sosok Kapitan Pattimura sebenarnya adalah seorang Muslim, nanti akan muncul pd waktunya”. “Tp”, menurut Hitipew kpd Sabri Pattimura, “sekarang belum saatnya”. Ketika kami mengikuti kata2 tersbt, arahnya seperti melahirkan buku ini, meski lewat enigma (teka-teki).

Ibarat mengisi teka-teki silang, buku ini hrs kami isi dngn menjawab sederet daftar pertanyaan; sejajar, kanan kiri atas bawah. Menariknya, sebagaimana sdh djawab banyak orang, begitu satu kolom terisi jawaban, kolom lainnya yg sudah terisi malah memerlukan perbaikan. Pastilah, krn jawaban yg jg banyak meminta alasan2 logis.

Betapapun cemerlangnya kolaborasi para kapitan tiga batang air melalui Kakehan, ia hanyalah cerita2 di bawah pohon jk tdk diangkat dan diisolasi. Cerita dbawah pohon bukan mustahil menjadi ladang yg lain bagi tumbuhnya kontroversi.

Di dlm berbagai perlawanan yg dberikan nenek moyang kita trhadp penjajah ?bukan hanya Perang Pattimura? di samping tdk ada sebab tunggal, didalamnya jg melibatkan para ksatria yg krn watak dan kemampuan mereka menjadi orang2 pilihan ditengah masyarakatnya. Tp, pemahaman yg kita dpt, sejarah Pattimura tak lebih dari sebuah “pertempuran sentris”. Nyaris hampa dari jejak nilai budaya.

Tdk bisa ditutup-tutupi betapa reputasi orang pilihan adalah krn ketaatan mereka pd prinsip dasar tertentu. Jk “kapatah” diartikan sebagai kidung tradisional, misalnya, maka “semanno” lebih khusus diartikan sebagai puji-pujian kepada para leluhur.

Sangatlah sulit mendapat gambaran yg jelas mengenai tanggapan budaya terhadap hak sebagai representasi sifat ketaatan kepada prinsip dasar tertentu jika sejarah perjuangan ditulis hanya pada aksi heroik, atau pertempuran sentrisnya.

Sejauh ini, tdk ada gambaran yg jelas dari peristiwa 15 Mei 1817 yg dpt membantu memberikan terminologi bhw potret manusia dan kebudayaan Maluku secara universal juga ada dalam sejarah Perang Pattimura.

Tak mungkinlh bahkan mustahil, sejarah yg diceritakan hari ini akan sama persis dngn peristiwa yg sebenarnya terjadi.

Bagi mereka yg terlibat langsung dngn peristiwa itu, atau mereka yg mendengar peristiwa tersebut diceritakan dari saksi mata, mungkin mengingatnya, mencatatnya dngn cara mereka, lalu catatan itu mereka simpan baik2 sbagai bahan perenungan berharga ttng sebab, motif, waktu, pelaku, atau akibat terjadinya peristiwa tersebut.

Tp kadang muncul orang yg tdk berhak; mengambil catatan yg tersimpan. Nilai peristiwa yg ditulis menjadi kacau balau, campur aduk antara pengalaman para saksi mata dngn opini tamu tak berhak tadi.

Selanjutnya, tradisi mencampuri urusan yg bukan haknya diikuti orang2 sesudahnya; informasi yg diteruskan lebih parah lagi, terjebak pd kebiasaan memindahkan cerita dari mulut ke mulut, menganalogikan bahasa yg malah salah kaprah, menyalin dari satu buku ke buku yg lain, tanpa analisa. Ini menjawab pertanyaan ttng mengapa banyak masalah yg menggantung dlm penulisan sejarah Pattimura.

Upaya mengungkapkan siapa sosok Kapitan Pattimura bukan krn tidak ada data pendukung tetapi, karena terlalu banyak pernyataan, terlalu banyak opini2 oplosan. “Hingga berakhirnya seminar”, demikian tulis koran Suara Maluku edisi 8 Nopember 1993, “Belum bisa dipastikan siapa tokoh Kapitan Pattimura yang sesungguhnya”.

Dari segi kehati-hatian, orang Latu memilih merahasiakan fakta peristiwa 15 Mei 1817 yg sebenarnya agar dapat menarik garis yg jelas antara dpt dan tidak dpt menjaga perasaan basudara lain, yakni para anak cucu yg berasal dari tiga batang air, sembari membiarkan fakta2 yg ada berbicara sendiri.

Krn buku ini hanya membicarakan keterangan fakta, sesuatu yg pasti peka tp inilah faktanya maka, sosok Kapitan Pattimura asli yg akan di munculkan dsini tak ada kaitannya dngn asal melainkan dngn kecocokan antara motif dan kejadian, sebab dan akibat, pelaku dan tempat bahkan, kecocokan antara marga dan gelar.

Sehubungan dngn bahan informasi tentang sosok Kapitan Pattimura yg sudah ancor lele sedari awal, titik singgung buku ini dpersempit pd jejak2 para kapitan tiga batang air khususnya yg berada di Latu dan sekitarnya.

Informasi mengenai bagaimana nenek moyang kita itu menyerang penjajah, bagaimana usaha-usaha heroik mereka, kemampuan dan kesetiaan mereka akan suatu tujuan, apakah kemunculan mereka hanya karena bakat-bakat intuisi, direncanakan atau spontanitas, dikomando atau bergerak diam2 termasuk peralatan mereka, kami akui tidak bisa diselami hanya dari satu sisi.

Dngn alasan tsb, buku ini meminjam sjumlah pendapat ahli antara lain: Subyakto, antropolog UI dlm esai terbatas Kebudayaan Ambon. Juga, keterangan dari sejarawan Maluku R.Z. Leirissa dlm bukunya, Maluku Dalam Perjuangan Nasional Indonesia. Sedangkan keterangan mengenai bahasa sebagai alat pengukur apakah kata2 yg dgunakan persisnya memang begitu atau tidak, buku ini juga menggunakan hasil studi lapangan E. Wattimury, Ny. A Haulussy, dan J. Pentury lewat karya mereka Struktur Bahasa Alune.

Pendapat ahli sejarah pendidikan tradisional Hasan Muarif Ambary juga penting untuk melihat latar belakang kemunculan nenek moyang Kapitan Pattimura dan karenanya motif perjuangannya. Esai Ambary dalam Pesantren Sebagai Basis Pendidikan Generasi Masa Depan, bahkan memperkuat sinyalemen Frans Hitipew tentang Kapitan Pattimura itu seorang muslim; ulama mujahid.

Kalau buku ini menggunakan pendapat Ibn Khaldun, mungkin karena kajiannya yg mendalam akan kata “Mulk”, dan teorinya tntng pengaruh iklim terhdp watak manusia lewat karyanya yg monumental Mukaddimah. Mudah-mudahan krn ada semacam kemiripan saja antara teori itu dngn watak yg mudah bersuka-ria, mudah dibangkitkan, terkait dngn watak yg mudah dihasut. Bahkan bukan tidak mungkin terkait dengan hormon adrenalin (nyali).

Termasuk, keterangan dari Bernard HM. Vlekke, sejarawan Belanda lewat karyanya Nusantara: Sejarah Indonesia, dan, keterangan dari M. Adnan Amal lewat karyanya Kepulauan Rempah-Rempah, Perjalanan Sejarah Maluku Utara 1250-1950. Keterangan dari Rusli Andi Atjo lewat karyanya, Pergolakan di Maluku Pada Abad XVI juga menjadi bahan penting.

Utk informasi yg bersifat umum ttng geologi, ttng tumbuhan eksklusif seperti cengkeh dan pala di bumi Maluku sebagai faktor yg bukan kebetulan, bahkan tentang suku Melanesia sebagai manusia pra Nusa Ina, buku ini juga menggunakan pandangan Arnold Toynbee tentang perubahan2 fisiografis dan iklim selama proses pembentukan planet bumi lewat bukunya Sejarah Ummat Manusia, dan pendapat Robert Cribb, ahli sejarah Indonesia pd Univ Queensland, Australia, ttng pengaruh iklim yg menyebabkan suku Melanesia Pasifik kabur dari daerah barat ke timur, lewat esainya Bangsa: Menciptakan Indonesia.

Bagaimana gambaran tumbuhan eksklusif seperti cengkeh, pala, atau mutiara, berkaitan dengan sifat kondisi alam sekitar, buku ini jg penting memakai keterangan dari L. Rutten dan W. Hotz, geolog Belanda atas hasil penelitian mereka di Nusa Ina selama dua tahun (1917–1919) dlm karya mereka Geological, Petrographical, And Palaeotological Results In The Island Of Ceram.

Sekalipun kami merasa lahir dan dibesarkan di tengah lingkungan adat, teori2 ttng adat tetap kami pertimbangan misal dari Soerjono Soekanto dan Soleman b. Taneka lewat karya mereka, Hukum Adat Indonesia, atau dari Roberto M. Urger, tokoh gerakan studi hukum kritis yg juga Guru Besar bidang hukum Universitas Harvard dalam karyanya Teori Hukum Kritis: Posisi Hukum Dalam Masyarakat Modern.

Yg tak boleh kami abaikan pula ialah keterangan Ziauddin Sardar, wartawan New Scientist, London, ttng terobosan dini ilmuwan Muslim pra modern bidang astronomi, matematika, maupun kedokteran lewat karyanya Muhammad For Beginners. Pembeberan Sardar lewat karyanya itu memungkinkan kami memahami kemunculan Pattimura bukan saja secara fisik, melainkan menjadi penuntun untuk memahami bakat-bakat intuisinya yg begitu penting, bahkan memungkinkan kami menemukan bentuk peralatan perang yg digunakan. Misalnya, parang; tidak panjang, sangat tajam setajam silet, dan mengapa ada tiga lubang kecil di dekat pegangan parang tersebut.

Segera setelah kita mengetahui peran Kakehan dlm peristiwa 15 Mei 1817, mengetahui fakta ttng besluit, Piagam dari Pemerintah Kerajaan Belanda dan, fakta tentang polemik para analis sejarah, maka fakta2 itulah yg menyatakan sosok Kapitan Pattimura bukan seperti dipahami orang selama ini.

Tentang besluit, ditunjukan oleh Piagam Penghargaan Kerajaan Belanda kepada Raja Latu krn orang Latu telah memelihara Puane, putri Residen Van den Berg yg brnama lengkap Jeane Lubbert Van den Berq. Sang Puane diselamatkan pasukan Pattimura dari dlm benteng ktika msh orok, terbungkus dlm peti, dibawa ke Latu dan dipelihara oleh marga Riring hingga si Puane berusia tujuh tahun.

Bukti pemeliharaan putri itulah, menjadi alasan yuridis bagi Walanda bhwa mereka diserang oleh pasukan dari Latu, sekurangkurangnya orang Latu tau itu.

Maka, orang2 Latu pun ditangkap, kemudian diberangkatkan ke Saparua utk menjalani hukuman; mencabut rumput dngn gigi, mencungkil gunung batu dngn isi parang yg hasilnya sekarang menjadi sebuah jalan raya bernama “soloise”.

Tentang jejak para kapitan tiga batang air, ditunjukan oleh tempat-tempat yg ada di Latu dan di Saparua seperti Worinno, Lahatuni, atau Amoulo, Kohu, atau Waesisil, dan, kapatah-kapatah.

Tentang kontroversi, polemik, anomali, di tunjukkan oleh munculnya berbagai bentuk tulisan, artikel oleh para sejarawan, analis, pemerhati yg berironi tentang dialiaskannya Thomas Matulessy menjadi Kapitan Pattimura. Meskipun yang terahir ini hanya prolog, tetap merupakan bahan perbandingan bahkan alasan buku ini.

Hubungan nilai perjuangan ?bukan hanya Perang Pattimura? dngn kondisi kekinian adalah relevansinya yg sangat erat dengan HAM, hukum, dan demokratisasi. Sangat bersifat pembebasan nilai kemanusiaan universal.

Di abad globalisasi, abad informasi, dan transparansi ini, maka titik balik pembebasan itu mestinya juga membebaskan tradisi pemikiran dari warisan zaman penjajahan. Yg hanya melihat Perang Pattimura sebatas hari peristiwanya dan diperingati setiap tahun secara konstan.

Di mana masih ada kejanggalan dan kontroversi, di sana tak kan ada kebangkitan dan pembebasan.

Nilai penggerak perjuangan yg dibayangi ongkos dan kegunaan pastilah bukan sifat dasar Kakehan seperti halnya nilai itu akan lenyap bersamaan terwujudnya asas kegunaan.

Ketika Kakehan menjadi makin diperhitungkan dan disegani, sesuatu yang lain harus hadir sehingga watak tradisi penghormatan saja tak akan cukup.

Nilai2 yg selalu diinginkan manusia adalah kelangsungan hidup, keamanan, persaudaraan, keselamatan, keunggulan, bahkan mungkin prestise. Setidaknya, itulah nilai mendasar yang entah bagaimana selalu dijunjung tanpa menghiraukan kegunaan atau ongkosnya.

Jika kita sedang terenyuh menghadapi wajah karakter bangsa, maka pemutarbalikan fakta bagi siapa saja adalah adegan paling puncak dari drama reruntuhan nilai kemanusiaan universal, dari nilai kearifan lokal, variabel karakter bangsa itu.

Dngan tdk meninjau ulang fakta peristiwa 15 Mei 1817 dlm mata pelajaran sejarah perjuangan bangsa di bangku sekolah, bukan mustahil akan menjadi benih sengketa anak cucu kita di masa mendatang karena kita berbicara tentang pendidikan berkarakter sembari melakukan pembiaran manipulasi fakta sejarah.

Variabel pendidikan berkarakter tak pelak hanya menjadi omong bual. Maka, tujuan utama buku ini adalah menyuguhkan fakta-fakta peristiwa Perang Pattimura yang selama ini masih tersembunyi bagi kebanyakan orang.

Interpretasi mana bukan hanya dari perspektif kecocokan antara pelaku dan tempat untuk memahami motif dan kejadian, sebab dan akibat, melainkan juga dari perspektif kondisi sosial; ketika peristiwanya terjadi atau bahkan, ketika sejarah ini ditulis.

Di mana tidak ada kecocokan, di sana tak kan ada obyektifitas pemahaman.

Cengkeh dan pala adalah buah kemanisan sifat obyek alam yg, menjadi magnit bagi kedatangan berbagai bangsa ke Maluku. Tapi, periode peperangan yang terkenal seperti Perang Hitu (1520-1605), Perang Banda (1609-1621), Perang Iha (1632-1651) atau Perang Hoamual (1625-1656) menjelaskan, bahwa d’antara bangsa2 yg datang itu, ada yg membawa jenis kejahatan yg hebat terhadap warga masyarakat.

Maluku tak pelak menjadi citra daerah yg malang di tengah kekayaan.

Perang Pattimura mungkin tak bisa di pisahkan dari bias zaman peperangan sebelumnya tp, yg unik mengenai hubungan Kapitan Pattimura dan periode peperangan itu adalah adanya anggapan bahwa Pattimura itu dia dia juga yg ada dlm peperangan2 dmaksudkan.

Kejahatan zaman penjajah kini tinggal kenangan tetapi Perang Saudara atau konflik horizontal (1999-2004) merupakan urusan semua orang yg berpikir ttng bias sifat tanah rempah-rempah, ttng sifat tanah raja2.

Gambaran mengenai hubungan antara sifat obyek alam Maluku dan prilaku sosial menjadi alasan bab pembuka buku ini ttng “Maluku”.

Hubungan Brigade Kakehan sebagai fakta pelaku penyerangan 15 Mei 1817 tdk sebatas melihat kerangka fisiknya. Kita tdk dpt mengerti dengan baik, mengapa Kakehan disebut sebagai kopassusnya orang Seram tanpa mengetahui terlebih dahulu tentang gambaran induk pasukan khusus itu, ya Kakehan itu.

Dngan alasan Kakehan sebagai organisasi kemiliteran jaman kuno Nusa Ina, yg merepresentasikan watak mengamankan kelompok masyarakatnya, buku ini akan dilanjutkan dngn bab dua ttng “Fakta Peristiwa dan Karakter Orang Seram” untuk melihat kemungkinan akar keintiman sosial dalam paduan tiga batang air; Tala, Eti, dan Sapalewa.

Manusia cenderung melakukan apa yg pernah dilakukan. Watak, kelakuan juga terikat pada kondisi alam sekitar. Sebelum perlawanan terhadap penjajah ?bukan hanya Perang Pattimura? menjadi kewajiban, ada kebiasaan, ada tradisi yg mau tak mau membawa kita untuk melihat faktor2 yg mengkondisikan lahirnya watak dan tradisi tersebut, uraiannya di bab tiga, ”Kakehan dan Nunusaku”.

Selain Latu sebagai tempat kelahiran Kapitan Pattimura secara fisik, pengaruh tradisi penghormatan atas kekuasaan di Nusa Ina dari zaman ke zaman pada akhirnya menjelaskan Worinno menjadi tempat pleno adat para anggota Kakehan bukan kebetulan, melainkan karena Latu sebagai representasi keabsahan tradisional atau kekuasaan adat. Kita akan melihat hal ini dalam bab empat, “Latu”.

Sebelum kita melihat bangkitnya semangat Ana Manawo dan bagaimana jalannya persiapan pengempuran oleh brigade pembebasan nilai kemanusiaan itu pada bab tentang “Aksi Heroik 15 Mei 1817”, kita akan melihat siapa sosok Kapitan Pattimura yg sebenarnya dalam bab lima.

Memahami nilai peristiwa sejarah tidak sebatas memahami waktu, pelaku atau tempat. Jika fakta peristiwa tdk cukup memadai untuk menjelaskan kesadaran sejarah, dan, kemunculan skill pasukan khusus berakar pada kesadaran sejarah maka, bab dua dan tiga buku ini merupakan kombinasi efek latar belakang; hanya untuk memperbandingkan akar kemunculan cipta, rasa, dan karsa yg dicontohkan dengan adanya cerita-cerita rakyat, syair, pantun, kapatah, atau jugulu-jugulu (teka-teki).

Ketika ada ahli sejarah yg mempertanyakan bukti kapatah2 jika penyerangan Perang Pattimura atas inisiatif Saniri Tiga Batang air di pulau Seram, maka kapatah2 dlm bab tentang Aksi Heroik Ana Manawo bukan hanya menjadi penuntun untuk menjelaskan kesadaran sejarah tp sekaligus menjadi pegangan kepada sang ahli sejarah.

Jk diamati, aksi heroik para pasukan justru karena disemangati dengan kapatah-kapatah.

Kalau boleh kita amati lebih mendalam lagi, justru fakta inilah –kapatah2- yg tidak ada dalam cerita pergerakan pasukan Thomas Matulessy.

Mempertemukan apa yg diabaikan dengan era HAM dan demokratisasi dapat membantu kita memulihkan ingatan generasi penerus tentang pentingnya fakta peristiwa sebagai penentu obyektifitas nilai sejarah.

Kebalikan dari upaya ini adalah menjauhkan nilai sejarah dari identitas daerah. Ini kami pisahkan tersendiri dalam satu bab penutup.

Tidak lama lagi dari sekarang, peristiwa 15 Mei 1817 akan genap dua abad.

Jk kita berangkat dari 1966 dimana pembangunan nasional bermula, kita dapat melihat berbagai hasil selama 32 tahun meski, nikmatnya tergantung kebaikan hati sang penguasa.

Semenjak Mei 1998 sebagai starting point reformasi total, kita sudah bangkit hampir untuk segala urusan dalam kehidupan bersamaan dengan pelaksanaan desentralisasi kewenangan pemerintahan dan desentralisasi kewenangan keuangan.

Konsekuensi saling mengkalim adalah mengklaim pula nilai kebangkitan dan pembebasan yang secara prinsip bersifat universal dan abadi. Dapatkah nilai sejarah yang ada di terangkan dalam kerangka pencocokkan hubungan antara pelaku dan tempat, motif dan kejadian, antara sebab dan akibat, sehingga fakta peristiwanya menjadi lebih bernilai universal?

Dengan mengetahui peran Kakehan dalam operasi adat 15 Mei 1817, kita akan berpikir alasannya pastilah luar biasa.

Dengan mengetahui motif eksodus orang2 Iha yg hrs menyeberangi lautan dan bermukim di Latu hampir satu abad, kita akan melihat motif itu sebagai sebab luar biasa yang mengusik kepekaan para kapitan Waehata Telu menyerang Belanda.

Cara pandang seperti ini mewajibkan kita untuk lagi-lagi mengisolasi tempat, pelaku, motif dan kejadian.

Dengan mengamati sketsa wajah Kapitan Pattimura yang ditemukan di Belanda pada tahun 1985 oleh Tim penggarap film Balada Kapitan Pattimura, kita pun dapat berpikir bahwa kontroversi sosok Kapitan Pattimura memang ada banyak petunjuknya.

Kekurangan buku ini adalah latarbelakang dua penulis yg wartawan, bukan sejarawan. Sedikit kelebihan buku ini adalah wartawan yg selalu menulis berdasarkan fakta. Mengisolasi tempat, pelaku, motif dan kejadian Perang Pattimura yg dilakukan dua penulis buku ini, sekarang tinggal bagaimana diangkat ulang dan diterangkan oleh para sejarawan.

Yang pasti teman-teman, ketika matarumah merupakan sinonim dari fam atau marga yang menunjukkan tingkat kekerabatan, tingkat kekeluargaan, dan matarumah Pattimura di antero bumi ini hanya ada di Latu, Seram Barat, maka apapun komentar orang atas isi buku ini adalah sementara dalam pemahaman, tapi matarumah Pattimura adalah permanen dalam hubungan dengan hak identitas keluarga, hak identitas kampong, bahkan hak identitas daerah seperti halnya hubungan ahli waris Matulessy dngn Thomas Matulessy adalah permanen yg tidak gampang untuk dibengkokkan begitu saja oleh siapa saja, dngan alasan apa saja..
Share
Read more »

Sunday, February 2, 2014

BETA AGAMA NOAULU


Tidak hanya soal budaya dan religiusitas, buku Beta Agama Noaulu menyingkap sisi lain relasi negara dan agama tradisi. Buku ini setidaknya hadir untuk mengirimkan dua pesan : membela agama tradisi dan menjewer kuping negara.

Ditulis dalam delapan bagian yang menjadi isi buku, penulisnya M Azis Tunny mendeskripsikan dengan baik problema budaya dan religiusitas suku Noaulu, yang mendiami bagian selatan Pulau Seram. Noaulu berasal dari kata Noa, nama sungai, dan Ulu artinya kepala sungai. Noaulu artinya mereka yang mendiami hulu sungai Noa, di bagian Seram selatan.

Ungkapan agama Noaulu, adalah term yang paling tegas dalam buku ini. Karenanya Agil (sapaan Azis Tunny) dengan caranya men-declare judul bukunya : Beta Agama Noaulu. Ungkapan yang mungkin belum biasa, karena kita terbiasa mengenal dan menyebut Noaulu sebagai suku, bukan agama. Buku ini punya argumentasi yang cukup untuk memosisikan Noaulu sebagai agama, baik dari aspek religiusitas maupun hubungan-hubungan sosialnya.

‘Delapan bagian buku ini disajikan secara menarik: Agama Noaulu, Dicap Kafir dan Animisme, Potong Kepala Manusia, Ritual Menuju Kedewasaan, Jika Orang Noaulu Berdoa, Kampung Orang Mati, Sejarah Noaulu dan Sepa, Agama Leluhur Kian Terdesak, dan Noaulu di Mata Orang Muda.

Sebagai pembuka isi buku, bagian Agama Noaulu langsung menyoal relasi negara dan agama Noaulu. “Saban kali pelajaran agama, beta dan tamang-tamang dari kampung Noaulu disuruh ke luar kelas, karena agama kami tidak diajarkan di sekolah,” ujar Manioka Matoke, siswa kelas V SD Inpres Kilometer 12, Kecamatan Amahai.

Tuale Matoke (25) mengalami masalah diskriminasi yang lebih dalam. Saat SD dan SMP di raport agamanya Kristen. Sedang di bangku SMA tertulis di raport agamanya Islam. Dengan cara itu, Tuale dapat menyelesaikan studi hingga perguruan tinggi. Dia pun tetap memiliki nilai agama. Saat mendaftar PNS di Kabupaten Maluku Tengah, Tuale menggunakan agama Hindu. Di akta kelahiran dan KTP-nya juga tertulis Hindu.

Tiga agama resmi itu, secara formil pernah menghiasi dokumen resmi Tuale. Namun dia tidak menganut satupun agama-agama itu. Karena tidak ada agama Noaulu yang diakui negara, Tuale memeluk tiga agama resmi negara itu dalam dokumen dan data dirinya selama perjalanan studi dan masuk tes CPNS. Tentunya cara itu dilakukan dengan sangat artifisial dan tidan imanen.

Bagian berikutnya, Dicap Kafir dan Anismisme, Agil mengutip ungkapan Tuale. “Orang bilang kami sembah patung, sembah pohon, sembah batu, nyatanya tidak. Kami percaya pada Upu Anahatana, Tuhan Yang Maha Kuasa,” ujar PNS di Kantor Camat Elapaputih, Maluku Tengah ini.

Bagi orang Noaulu, alam semesta dijaga oleh Upu sebagai perantara Upu Anahatana. Upu Anahatana adalah Tuhan Yang Maha Kuasa, yang menguasai langit dan bumi. Sedangkan ada empat Upu yang berada di bawah Upu Anahatana dengan tugas masing-masing. Upu-Upu tersebut Nue Nosite (penjaga laut), Wesia Upue (penjaga darat), Sionoi Aha (penjaga udara) dan Seite Upue (penjaga hutan dan kebun).

Dalam buku ini Agil menyajikan dengan baik tiga proses sakral dalam suku Noaulu. Selain perburuan potong kepala, yang kini digantikan dengan hewan kusu, dia juga mengungkap tradisi Panimou dan Pataheri, dua tradisi sakral bagi wanita dan pria menuju kedewasaan. Pataheri dan Pinamou banyak diriset orang, termasuk hasil disertasi doktroral Prof. Dr. Khalik Latuconsina, guru besar IAIN Ambon dan Kakanwil Agama Maluku ketika studi doktoral di IAIN Sunan Kalijaga, Jogyakarta.

Pataheri disebut juga upacara cidaku, karena pria dewasa Noaulu yang mengikuti prosesi ini disematkan kain berang merah (karanunu) dan cidaku. Ritual pataheri dimulai dari puasa selama 1 hari, dari jam 3 dini hari sampai jam 6 sore. Pada saat berpuasa mereka menggunakan kaeng berang, yang diyakini akan melindungi mereka dari gangguan soi atau setan.

Pinamou adalah prosesi penobatan perempuan saat haid pertama, yang harus diasingkan ke pasune, rumah yang terbuat dari rumbia (daun sagu) dengan ukuran 2 x 2 meter dengan tinggi 1,5 meter. Gadis yang melalui tradisi panimou hanya dibekali bambu untuk tempat tidur, kain dan piring yang dibuat dari daun sagu.

Kampung orang mati (bagian enam isi buku), adalah artefak ritus budaya yang menarik. Di tempat ini orang Noaulu yang meninggal ditaruh di atas para-para dari bambu. Hanya mereka yang meninggal karena melahirkan yang dkubur di dalam tanah. Kampung orang mati adalah tempat pamali, yang tidak boleh dikunjungi orang Noaulu, kecuali saat mengantar jenasah. Demi kepentingan buku ini, Agil menembus pamali mengunjungi daerah ini : mengambil gambar para-para orang mati.

Orang Noaulu juga berdoa, yang berusaha ditranslate Agil ke dalam bahasa Indonesia. Doa suku Noaulu ingin disandingkan dengan doa-doa lain, yang dalam sebutan dan artinya berasal dari agama-agama mainstream di Maluku, seperti Islam dan Kristen, yang telah mengalami asimilasi budaya dengan sebutan-sebutan adat dan budaya lokal seperti Upu.

Di atas semua upaya deskriptif itu, buku Beta Agama Noaulu yang ditulis Agil, sebenarnya ingin menggugat negara yang abai memberikan pengakuan terhadap agama Noaulu. Dimensi kultural dan religiusitas dalam buku ini, seakan ingin menegaskan term Noaulu itu adalah agama, bukan hanya sebutan sebagai suku yang selama ini ada di dalam kepala banyak orang.

Buku ini layak dibaca, karena membuka cara berfikir yang berbeda tentang orang Noaulu di Seram selatan. Membacanya tidak hanya mengantar kita pada sisi bathin terdalam religiusitas orang Noaulu, namun juga menggugat dimensi kebangsaan kita yang pancasila dan bhineka tunggal ika.

Namun membaca buku ini harus dengan pikiran yang terbuka, sebagai dialog yang tidak terjebak pada kebenaran sepihak. Tidak mudah menerima beberapa tesis dalam buku ini, termasuk membela Noaulu sebagai agama. Karena itu bagi mereka yang mendalami sosiologi agama, buku ini mungkin saja sangat menarik. Namun maknanya dapat berbeda bagi mereka yang memahami agama secara rigid, karena tidak terbiasa memahami agama dalam konteks sosiologis dan relasi-relasi kebudayaan yang terbuka.

Agil mendorong proses emansipasi agama tradisi seperti Noaulu, bukan saja dengan buku, namun juga mendedikasikan penjualan buku ini untuk didonasikan uangnya bagi prosesi adat Pataheri di Noaulu. Sebuah upaya nyata yang patut kita hargai di tengah keringnya toleransi bernegara kepada agama tradisi yang banyak tersebar di pedalaman Indonesia. Tabea!

source : https://www.facebook.com/pages/TitanE/21701744164698
Share
Read more »

Lawa Mena


Lawa Mena, beta masih muda

seng takut binasa

sumpah parang di muka



beta ini Kapitan yang murka

dari Morotai sampe ke Kisar

beta tahan segala cuaca

beta tanam segala kuasa

bikin tuan hancur binasa, pucat muka

seperti Belanda kehilangan pala



Mena Moria, ini tanah beta yang punya

seng ada harga seng jual di kota

jang tuan paksa

sekali berteriak merdeka

tuan rubu rata deng tanah



Dino Umahuk
20 Januari 2014 pukul 12:13

Share
Read more »

Apa Damai Itu Mahal ? (Coretan perjalanan dari Ternate ke Ambon)

“Dengan rendah hati aku mengakui : Aku adalah bayi
 semua bangsa dari segala jaman, yang telah lewat dan
yang sekarang. Tempat dan waktu kelahiran, orangtua,
 memang hanya satu kebetulan, sama sekali bukan
 sesuatu yang keramat.” (Pramoedya Ananta Toer)

CORETAN ini sebenarnya telah terpenjara sejak lama dan enggan bersuara lantang tentang keresahan yang ingin disampaikan pada dunia tentang ‘kedamaian’ atau ‘damai’ ataupun ‘perdamaian’. Apapun yang pasti maknanya berkaitan dengan ‘pe-rasa-an | ke-tenang-an’.
Kiranya saya akan sedikit berkisah perjalanan dari Kota Ternate pada tanggal 15 September dengan KM Sangiang dan tiba di Kota Ambon pada 18 September. Dengan maksud mengikuti tes wawancara calon wartawan Kompas yang diselenggarakan di Hotel Marina Jl. Jan Pays No 16 kota Ambon. Selama tiga hari berada di atas kapal yang banyak kisah yang saya alami sebelum tiba di Kota Ambon. Mulai dari handphone saya hilang ketika ketiduran. Bertemu dengan teman yang biasa saya sapa Mendes, berdiskusi dengan beberapa orang asal Sanana tentang pertambangan emas yang mengakibatkan kerusakan alam hingga bagaimana nasib alam Namlea yang kini semua mata tertuju pada sumber emas yang ada di sana, di mana setiap pertambangan emas pasti ada konflik dan darah.

Ketika beberapa jam lagi tiba di Kota Ambon, saya sempat bertemu dengan salah satu pemuda asal Ambon dan bercerita terkait kedatangan saya, bercakap-cakap hingga menambah sedikit pengetahuan bahkan sedikit meresahkan hati. Kira-kira begini yang diungkapkan pemuda itu yang menambah semangat saya,’Orang asli Ambon itu tidak ada yang kerja di perusahan tambang emas, karena dia paling menghargai tanah. Ibarat bumi seperti manusia dan emas yang berada di dalamnya adalah organnya, ketika emas itu diambil maka tubuh bumipun akan terluka dan bumi akan marah’. Sedangkan yang membuat saya resah ketika pemuda itu bertanya nanti ade tinggal di mana? Saya menjawab ada teman saya di Ambon yang saya sudah kontak dan mereka siap menjemput saya teman saya ada yang Muslim dan ada Kristen. Serentak pemuda itu menghentikan omongan saya dan berkata dengan logat Ambon ‘Ah kalau bole ale jangan tinggal selain agama Islam, bukan apa tapi katong jaga makanan’. Saya kemudian menghentikan pembicaraan dengan kegelisahan bahkan amarah.
Tiba waktunya di Ambon pada tanggal 18 September di Hotel Marina, mengikuti tes wawacara calon wartawan Kompas pada pukul 13.00, ternyata pesertanya hanya empat orang termaksud saya. Ketiga orang berasal dari dari Kota Ambon sedangkan saya sendiri dari Maluku Utara. Setelah selesai tes wawancara kira-kira pukul 18.15. kitapun meranjak dari hotel tersebut. Saya mendekati salah satu peserta bernama Rendi yang kini menjadi sahabat, dan ternyata kita berdua lulus dari jurusan yang sama yakni Sosiologi. Rendi yang tamatan S1 dari Unpatti dan saya dari Universitas Muhammadiyah Maluku Utara (UMMU). Kita berduapun lolos tes wawancara hingga melanjutkan psikotes berikut.
Berdiskusi dengan keresahan yang sama, saya menyampaikan pada Rendi terkait keresahan. Rendi seorang Kristen pertama di Ambon yang saya sampaikan ‘tentang unek-unek saya yang kira-kira begini: “ Ibu saya beragama Kristen dan bapak saya beragama Islam.  Kalaupun agama yang diturunkan oleh Tuhan untuk berkonflik maka saya memilih untuk tidak beragama”. Ternyata Rendi pun berpikiran yang sama dengan saya. Sederhananya begini ‘Yesus menyiarkan agama dengan visi ‘Cinta Kasih’ Nabi Muhammad juga demikian membawa visi kedamaian antar manusia.
Situasi sosial Maluku-Maluku Utara saat inipun sangat dipengaruhi oleh politik lokal yang tidak sehat yang kira-kira hampir sama modusnya, perubahan yang banyak menghilangkan nilai-nilai lokal terjadi pada era melenium (1999) sampai saat ini, masih banyaknya kepentingan politik yang menjadikan agama dan etnis sebagai kekuatan politik golongan yang akhirnya menimbulkan konflik.  Mari moi ngone futuru  Malut hanya menjadi pajangan/slogan pada ruas-ruas jalan raya, begitu juga Pela gandong-Maluku. Saya kemudian teringat pada filosof bijak yang entah berapa lama di Malut: Giki Rimoi yang artinya Tuhan itu satu, lisan ini yang telah sekian lama (kemungkinan sebelum penyebaran agama di Malut) orang tua-tua kita telah mengenal tuhan bahkan lisan ini sebagai perekat solidaritas kemanusiaan Malut.

Kiranya masih banyak hal yang perlu dikisahkan tentang kedamaian di Maluku-Maluku Utara yang kini masih mencari indentitas yang dulunya menyatuhkan hubungan manusia dengan manusia. Kiranya untuk menutup tulisan ini saya sedikit meminjam bahasa dari tulisannya Emha Ainun Nadjib  yang dimuat pada kolom Opini Kompas 22 September 2012 “ Ya Allah untuk apa Engkau ciptakan manusia yang kerjanya adalah merusak Bumi dan menumpahkan darah”. Dan akhirnya saya-kita dan semua akan bertanya-tanya Apakah Damai Itu Mahal? Yang tidak seharusnya ada konflik baru kita membuat Tugu Perdamaian, Gong Perdamaian dll yang hanya kita maknai sebagai objek wisata untuk menarik perhatian pengunjung ketika datang dan berfoto-foto setelah itu karcis-retribusi/pajak disodor ? Semoga tiap orang dapat memberi makna.


Oleh: Faris Bobero
Penulis adalah aktivis muda, tinggal di Ternate

Terbit di Harian Pagi Suara Maluku. Ambon - Rabu 26 September 2012 Share
Read more »

Anomali kelahiran kotaku, Ambon


Sejarawan dan para intelektual Maluku bersepakat bahwa peristiwa dibangunnya benteng Portugis “Nossa Senhora de Anunciada” menjadi cikal bakal berdirinya kota Ambon. Benteng yang kini dikenal dengan nama Nieuw Victoria itu menjadi entitas yang mengawali tapak sejarah Ambon, lebih dari empat abad lamanya.

Sebagai benteng Portugis yang kental dengan tradisi Katolik, panglima armada Portugis di Maluku, Sancho de Vasconcelos, memilih tanggal peletakan batu pertama benteng bertepatan dengan “pesta anunsiasi” yang dalam tradisi Katolik diperingati sebagai Hari Anunciada, saat dimana Maria diberi kabar suka-cita oleh malaikat Gabriel tentang kelahiran Yesus. Benteng ini lantas diberi nama sesuai peringatan liturgis itu “Nossa Senhora de Anunciada”, atau dapat diartikan “Benteng Bunda Kita yang Diwartakan Kabar Gembira.”.

Bukan tanpa alasan Portugis memilih 25 Maret untuk pembangunan Benteng Anunciada. Dalam antropologi bangsa yang tunduk kepada Kepausan Roma itu, filsafat sosiologi Portugis tak bisa dilepas-pisahkan dari spritualitas Kekatolikan. Antropologi populer menyatu dalam filsafat sosial ini, “Jika bukan Tuhan yang membangun rumah sia-sialah orang membangunnya”. Keyakinan antropologis tersebut begitu nyata dalam praktik kaum Portugis menyelaraskan pembangunan pada perayaan-perayaan keagamaan.

Dasar antropologis ini nampak pula dalam pembangunan benteng-benteng lain di Maluku. Benteng João Bautista (St. John) dibangun tahun 1522 di Ternate dengan memilih hari perayaan St. Johanes Pembaptis yang jatuh pada 24 Juni. Oleh Panglima Ternate António de Britto, benteng ini disebut Nossa Senhora del Rosario (Benteng Ratu Rosario), yang kelak menjadi Benteng São Paolo. Portugis mendirikan juga benteng Dos Reis Magos (Tiga Raja atau Majus Bijaksana) di Tidore pada 6 Januari 1576 mengikuti perayaan liturgis “Tiga Raja dari Timur Mengunjungi Bayi Yesus di Betlehem.” Pesta ini jatuh pada 6 Januari. Karenanya, dapat dipahami bahwa Portugis menempatkan hari berdirinya Nossa Senhora da Anunciada pada 25 Maret (1576) sebagai Hari Anunciada (H. Jacobs, 1974).

Pada kenyataannya, fakta tentang kelahiran Ambon yang dilegitimasi sekelompok intelektual dalam forum akedimis Universitas Pattimura (Unpatti) tahun 1972, adalah sebuah penyimpangan sejarah yang dilakukan secara sadar karena menetapkan 7 September sebagai hari ulang tahun kota Ambon. Keputusan ini membuat Ambon sebagai satu-satunya kota di dunia yang kelahirannya begitu anomali. Tanggalnya diambil dari peristiwa yang berbeda dari tahunnya.

Kesalahan sejarah ini terjadi pada masa Walikota Ambon, Matheos H. Manuputty (Walikota Ambon ke-9) yang membentuk dan mengangkat panitia khusus sejarah kota Ambon dengan tugas menggali dan menentukan hari lahir kota Ambon. Seminar ini lantas dimotori Fakultas Keguruan Unpatti pada 14 hingga 17 Nopember 1972, dengan ketua Drs. John Sitanala (Dekan Fakultas Keguruan Unpatti), wakil ketua Drs. John A. Pattikayhatu (Ketua Jurusan Sejarah Unpatti), dan Sekretaris Drs. Z. J. Latupapua (Sekretaris Fakultas Keguruan Unpatti).

Seminar lalu menetapkan hari lahir kota Ambon jatuh pada 7 September 1575. Untuk pertama kalinya HUT Kota Ambon diperingati pada 7 September 1973, setahun setelah seminar membuat keputusan itu. Tahun 1575 diambil sebagai patokan pendirian kota Ambon berdasarkan fakta-fakta sejarah yang dikemukakan dalam seminar bahwa pada tahun tersebut dimulainya pembangunan benteng “Kota Laha” di dataran Honipopu. Benteng Portugis yang bernama asli “Nossa Senhora de Anunciada”.

Sedangkan penetapan 7 September didasari peninjauan sejarah bahwa pada 7 September 1921, masyarakat Ambon diberikan hak yang sama dengan Pemerintah Kolonial Belanda, untuk menentukan jalannya Pemerintahan Kota melalui wakil-wakilnya di Gemeeteraad (Dewan Kota) berdasarkan keputusan Gubernur Jenderal pada 7 September 1921 (Staatblad 92 Nomor 524) yang mengartikulasi kemandirian kota Ambon. Dari sini kemudian ditetapkan sebagai hari berdirinya kota Ambon.

Dokumen Portugis dan Gereja Katolik menunjukkan fakta lain, yang justru menyajikan bukti historis sekaligus memvalidasi hari bersejarah Ambon. Surat Kapten Estevão Teixeira de Macedo tertanggal 2 Juni 1601 perihal berdirinya kota yang juga disebut Cidade de Amboino (Kota Amboina atau Ambon). De Macedo adalah Kapten “Nossa Senhora da Anunciada” sebelum kapten terakhir Gaspar de Melo yang menyerahkan benteng ini kepada Belanda tahun 1605 karena kalah perang.

Dalam surat yang tersimpan di Saville (Spanyol) itu, de Macedo menulis bahwa entitas awal kota Amboina adalah pada 25 Maret 1576, ketika batu pertama “Nossa Senhora da Anunciada” diletakkan di tepi teluk bernama Honipopu. Saksi mata abad ke-17 dan ke-18, baik Rumphius, Valentijn dan Rijali, menyebutkan, penduduk pulau Ambon ketika itu lebih mengenal Benteng Portugis itu dengan sebutan “Kota Laha” yang berarti benteng (kota) di teluk (laha).

Merujuk pada dua momentum yang berbeda baik tanggal maupun tahun kelahiran kota Ambon, tentu saja keotentikan sejarahnya perlu ditinjau kembali. Hasil keputusan seminar buah pikir manusia tentu masih bisa dirubah, mengingat sifatnya tidak final. Sejarah yang nantinya kita wariskan kepada anak-cucu sebaiknya sebuah kebenaran, bukan rekayasa dan pemutar-balikan fakta. Otentitas sejarah yang bebas nilai dan kepentingan sangatlah penting, bukan saja pada tataran teoritis dan pertanggungjawaban intelektualitas, tapi juga pemaknaan dan aktualisasinya. Kebohongan sejarah yang telah kita ketahui bersama sudah saatnya memunculkan kesadaran kritis secara kolektif untuk mengoreksinya. Bukan membiarkan, apalagi mengakuinya sebagai sebuah kebenaran.

Masa lalu tentu memiliki pengaruh besar terhadap peradaban manusia hari ini. Sejarah tentang masa lalu merupakan tolok ukur dari eksistensi manusia. Tanpa sejarah, kehidupan tidak akan berkembang dan maju. Melalui sejarah masa lalu, manusia akan lebih dapat memahami keberadaannya. Filsuf Jerman Georg Gadamer yang terkenal dengan karyanya Kebenaran dan Metode (Wahrheit und Methode) menegaskan, masa lalu sebagai arus bagi manusia bergerak dan berpartisipasi dalam setiap tindakan pemahaman. Pemahaman tersebut dapat diartikan pemahaman dalam arti luas, seperti pemahaman sebagai makhluk berbudaya yang memiliki cara pikir dalam menangkap segala peristiwa.

Bila manusia kehilangan sejarahnya, maka manusia itu tidak memiliki pemahaman mengenai dirinya. Sejarawan Arthur Marwick menyebutkan kelompok masyarakat tersebut akan mengambang tanpa memiliki pengetahuan diri. Penulis Rusia, Marxim Gorki menegaskan “the people must know their history”. Mengapa kita berbicara tentang sejarah? Jawabnya, karena sejarah menentukan pemahaman mengenai keberadaan dan perkembangan kita. Lalu, bagaimana dengan keberadaan sejarah kita yang sementara menjadi menghuni kota bernama Ambon ini? Kalau sejarah awalnya sudah menyimpang, bagaimana kita bisa menulis sejarah Ambon secara benar setelah itu?

Saran penulis untuk kita meluruskan sejarah kelahiran kota Ambon yang anomali ini adalah dengan tidak merayakan atau memperingati HUT Ambon tanggal 7 September, bukan saja tahun ini tetapi juga pada tahun-tahun mendatang. Pemerintah Ambon sudah saatnya menggali kembali fakta dan kebenaran sejarah dengan tidak membiarkan sebuah kesalahan melegitimasi hakekat dari keberadaan kota manise ini. (***)

8 September 2013 pukul 12:23

Oleh : M. Azis Tunny Share
Read more »

Saturday, January 25, 2014

LEGENDA MASA LAMPAU


KEBENARAN SEJARAH NUNUSAKU (ENTAH)
Dengan Nunu Saku di maksudkan Pohon Beringin ( Buyan Tres ) . Tetapi Nunu Saku sesuai penjelasan tradisionil lebih menyerupai pohon popythea seperti jenis yang di gambarkan oleh A.R Wallace ( Malay Archipelago 1869.p.64).

" Nunu Saku " terbentuk dari tiga kumpulan akar yang berpijak pada tepi sebuah danau; pohon bertumbuh menutupi danau.

Dari tempat dimana akar akar-akar memusat menjadi satu, keluarlah air yang mengisi danau ( Waele Butui - Air dari alat kelamin laki-laki). Air dalam danau disebut : Nunu Wae Sane = satu satu air suci yang kudus yang hidup dan yang abadi. Dari danai ini air menghilang kedalam bumi dan melalui terowong didalam tanah muncul kembali sebagai mata air pada bagian hulu ketiga batang air, dan melalui ketiga batang air Eti - Tala - Sopalewa di antarnya air turun kemuara.

Pada awalya Kapua Upu ila Kahuresi menciptakan alam semesta ( ASA ) menampilkan Bapak Matahari = Upu Tahola; ibu Bumi : Upu yama ese dan pengawalnya bumi : upu ila kae = Bulan.

Selama pertumbuhan mereka dari masa kanak-kanak hingga dewasa, terjadilah bahwa sang bapa matahari menaruh hati pada ibu bumi dan sebaliknya; maka ketika sinar pertama dari bapa matahari menyentuh ibu bumi, Hamilah ibu bumi sembilan zaman lamanya sesudah genap waktunya lahirlah : " Alif Uru " = Manusia Awal.!

" TEMPAT KELAHIRAN TERSEBUT ADALAH NUNU SAKU " Alif Uru minum dari air dan makan dari daun dan buah yang bertumbuh pada pohon yang suci kudus itu. Berikutnya bertambah banyaklah manusia awal ( wanita pertama keluar dari pohon pisang dan bambu). kemudian mereka diawali oleh empat kepala; tiga diantaranya melambangkan masing-masing : Nafsu, Jiwa, rasa dan ratio di dalam manusia yang saling bertentangan yang satu terhadap yang lain dan sebaliknya.

Ai Ukene (Lisabata)

1. Latu teru ijele hena ponie = Betul di negeri dulu ada tiga raja
2. Si Ambamuwe nunu jela lehui = Semua keluar di baringin besar
3. Ni sama ini waele senu waele = ini air besar semua sama saja
4. Si amanu pakea ni pakeana = Kasih hanyut ini pakaian- pakaian
5. Ama kai latu uhu inai = Nanti saja harus naik jadi raja
6. Sine Nua latu nuhu selane = Dua raja ini punya kuasa sama
7. Nuhu selane nete naru penusi = Kuasanya sama tetapi hatinya tidak betul
8. Si manahu mambuasa = Lain kasih jatuh lain
9 Lembea one Welea = Adu kekuatan di dalam air

Karena faktanya ketiga latu tidak mampu hidup bersama secararukun dan harmonis, maka dengan demikian mereka telah melanggar hukum : " Persekutuan Awal " yang telah ditegakkan oleh moyang moyang mereka sebagai : hukum " Sirih Pinang " ( Sirih, kapur, pinang, tembakau, dan cengkeh ).

Hukum yang telah diatur dalam persekutuan ini ialah : " Kita semua satu dari satu tubuh dengan " Kapua Upu Ila Kahuressi " sebagai kepala dan " totalitas" Maka kepala yang keempat yang melambangkan " Kuasa Roh " dalam manusia memerintahkan ketiga kepala untuk pergi dari lokasi Nunu Saku dan menjelajah bumi, Masing-masing mereka dengan kelompok yang berada di bawah pimpinan mereka. Dijanjikan kepada mereka bahwa Kapitan Besar akanmengatar mereka kembali untuk memperbaharui persekutuan awal; Menegakkan kembali hukum " Sirih Pinang " dan menyatukan mereka kembali ketiga Latu kembali ke gunung Fah ( di Ulate Inai ) untuk memperbaharui persekutuan awal karena Uru telah melupakannya, Maka sejak itu mereka di berikan nama " Hara Fah Uru " atau " Harafuru " yang arinya : URU DARI GUNUNG FAH. ( seperti zaman sekarang jelas masih dalam Peta laut harafuru atau di sebut arafuru atau laut alifuru atau Laut Arafuru ).

1. AI UKENE ( Nomali = Huelehu) = (Pesan) Ama - Ina untuk uru didalam ini ( Bomali- Nuwelehu)
2.Manu Tula potike sapalene = Roh dari langit diraih oleh upu yang datang bertemu dengan kau dialam ini
3. Rutu keku Nunusaku retui = Uru kalau dinunusaku baiknya pakai rutu-rutu
4. Kaha ketu waele teru, waele = Pergilah sampai keatas sampai keair besar - Tiga air besar
5. Sapawela surikamba-lesi = Sapawela yang menyapu bersih pada pandangan pertama seperti uli mengamati dan membela
6. Waele eti moni tihu mitene = Air besar eti bagaikan imam besar yang menegakkan hukum
7.Waele tala tahi sane samane = Air besar tala yang menghasilkan satu tubuh yang kekal dan paling berharga
8. Runa essi patia teru, one walea joo! = Anak uru kuasa terbagi tiga langgar air yoo!
9. Runa essi latua teru = Anak uru kuasa dari Allah tua benar tiga.

Kemudian persekutuan ditegakkan kembali " Sesudah mana kembali mereka turun lewat batang - batang air kini sebagai manusia dari gunung Fah untuk melaksanakan Hukum : Heka - Leka sampai Kapitan Besar Riri Ama ( Bapa Hakim ) mengantar mereka kembali ke Nunu Saku untuk selama-lamanya.

1. Turu lau haha ika kau e yami = itu orang jauh didaratan tinggi seperti kita juga
2. Hale nusa opono lease e yami = kita semua disebelahnya pulau ambon dan lease
3. Uling enye liasa manima = Satu kali potong tali putus ( dan ) gasepa terguling lepas
4. Nasi totol lema urie = Bermain hanyut menyesakkan nafas
5. Biang huta kamu kamu mouputi = Biang kamu kamu (menutup) permukaan dan tubuh. Menjadikan kita putih( agar tidak terlihat oleh orang lain)
6. Riri ama tutu hena sepa o = riri ama tegakan negeri asli o!
7. Riri ama kwae hena sepa o = riri ama cari negeri asli o

Demikian Nunu Saku adalah tempat dari pada awal kemana URU di dalam alam semesta akan di hentar kembali setelah dia memenuhi hukum " Leka " dan dipesankan bahwa hanya URU yang telah dilahirkan Baru " LEKA " - URU yang telah menyatu dengan alam semesta dapat menemui dan melihat NUNUSAKU

Nunu Saku = Unu Nusa Asa Ku = Bagian pulau dimana ku menjadi satu dengan Asa yang tunggal.

" KERANGKA DASAR SIWA-LIMA "

URU LELAKI DAN MATAHARI TERBIT

Supaya lebih dekat pada POLA PEMIKIRAN SIWA LIMA pendekatan ini mengusahaakan mengikuti jejak-jejak para pemburu Pola Dasar Siwa Lima milik mereka sendiri, ditegaskan demikian oleh salah satu dari pada yang memangkunya. Totalitas berasal dan menyeluruh ASA secara fungsionil di divensiasikan serta bertumbuh di dalam diversifikasi menuju sublemasi kembali ke asal, dengan integrasi sebagai suatu konstant.

Kerangka dasar SIWA LIMA sebagaimana dikatakan sebagai Multi Dimensional Spiritual, Mental maupun Pisikal. Pengertian dari pada totalitas Sangatlah berharga sebagai suatu konsep fundamental. Manusia ( Tubuh ) adalah model ( Kerangka Dasar ) untuk totalitas, akana tetapi juga untuk pembidangan diferensiasi dan difersifikasi fungsional yang mengikuti suatu peraturan khusus. Urutan ini tidak hirarki tetapi terikat pada senioritas ( Ketuaan ) dari pada lambag yang diwakili setiap pembidanan/diferensiasi.
Keempat dasar fungsi utama adalah symetrical serta menyatu kembali bersama kedalam totalitas.

Andaikata di bandingkan pendekatan ini di dalam bahasa cinematografi, maka subjek tersebut dipandang terlebih dahulu dari pada sudut lebar. Berikut dari urutan peneropongan “ Close “. Close up ini mengikuti urutan simbolik dari pada senioritas setiap masalah bersangkutan ( seperti akan di ekspose : urutan senioritas ini adalah variabel).

Mitos menempatkan asal dari pada manusia sebagai pola pemikiran di pusat pegunungan di tengah dan bagian barat dari pulau Seram di Maluku Tengah.
Selama berabad abad mereka meluas dan menempatkan dirinya di pulau pulau sekitar : Buano, Kelang, Manipa, Buru, Ambon dan Uliase ( Haruku, Saparua, Nusalaut )dimana mereka masih menetap sampai dengan sekarang ini.

Sesuai sejarah setempat, generasi-generasi yang mengatur migrasi tersebut telah berlangsung sejak 3000 tahun sebelum masehi. Penelitian ini dilaksanakan di lapangan Seram, Ambon, Manipa dan sebagian besar di bawah bimbingan dari Bapak Ir. S.J.M Sijauta yang memperkenalkan peneliti pada tradisi SIWA LIMA dan seluk beluknya. Terima kasih tak terhingga dari saya katanya dan pada penduduk Seram, Ambon, Leitimor, Hitu dan Manipa.

Penelitihan dilangsungkan di bawah asuhan dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia dan Sponsor oleh Universitas Pattimura Ambon dan di dukung leh Leopold III Foundation Oleh Belgian Foundation untuk peneliti antropologi oleh kementrian Belga untuk French Community dan oleh Fric University of Brussels dan bukunya “ URU SON OF THE SUNRISE “ tahun 1983-1984.

URU DI DALAM ALAM
Uru ( atau Ulu ) berarti orang dan ( Juga ) kepala Uru didalam alam diwakili oleh 9 = 5+4

Yang 5 mewakili :
Manusia dan keempat fungsinya :
1.Mon
2.Tuni
3.Mahu
4.Marna
Yang 4 mewakili :

Manusia awal di dalam alam dan :
1.Upu Tahola ( Matahari ) 3+1
2.Upu Ila Kee ( Bulan ) (ali –
3.Upu Yama ee ( Bumi ) furu

Diwakili pada kelahiran manusia oleh :
“ Kaka “ yang secara fisik menemani manusia pada kelahirannya
1.Nafas ( Teriak pertama ) persamaan : Udara
2.Placenta : Api
3.Air Ketuban : Air
4.Kotoran : Tanah

Note : Komponen-komponen yang menemani manusia pada kelahirannya dikenal adalah 4, tetapi disebut kaka ( bukan 4 kaka yang dianggap adalah satu ( Asa )
Dalam hal ini 9 = 5+ 4 Uru didalam alam menguasai alam dengan mempergunakan kaka untuk mengantarnya didalam alam.
TUBUH MANUSIA SEBAGAI MODEL (KERANGKA DASAR)
“ Apabila kita memperhatikan tubuh manusia yang mati kita sadar bahwa secara fisik ( Organik ) dia lengkap ( Tuni ) didalam tubuh ada infra struktur ( Mahu )
Berikut adalah enersi/phisikal, mental dan spiritual ( Moni )
Jikalau ketiga fungsi tersebut berfungsi, maka tubuh yang mati – menjadi hidup. Dia akan hanya tetap hidup apabila pelepasan kotoran berfungsi ( Marna ). Kita anggap tubuh sehat apabila keempat fungsi berfungsi. Ini adalah tujuan dari tubuh yang hidup.

Manu : Yang paling berharga dari langit diwakili oleh burung diartikan Roh (Spirit)
Mani : Yang paling berharga dari bumi diwakili oleh benda-benda perhiasan(Jewels) “ Mani-mani: tali “ kain pinggang” atau kalung “Mani mani”

Uru ( atau Ulu ) dalam pusat kepala manusia dan Hesam asa diartikan dalam daerah tengah Tubuh ( Daerah pusar ).Separuh Tubuh Daerah Pusar keatas diartikan dalam sebuah bagian Langit dan separuh tubuh daerah pusar ke bawah diartikan dalam bagian Bumi. Di dalam tubuh dengan tangan menengadah keatas antara tangan dan daerah Dada ( Hati ) disebut Hiti dengan arti Angkat Tubuh ( Promosi pada tingkat yang lebih tinggi ), seterusnya dari daerah dada ( Hati ) sampai pada kaki manusia diartikan dalam Hata yang artinya Lever,jantung jiwa dari nyawa/batin, kesadaran seluruh tubuh.. Selanjutnya daerah Kaki sampai dengan berpijak di bumi disebut Hatu yang artinya Batu,Karang,alas/landas yang sama dengan dibawah tubuh.

Note : Hesam Hesa ( Atau Hesam Asa ) adalah tempat dimana bagian langit dan bumi bertemu menyatu. Disini tempat ikatan “ Tali Kain “ dengan 14bbuku mewakili ketujuh roh langit dan ketujuh roh bumi. Di pinggang juga dibawa milik yang paling berharga ( benda material maupun spiritual )

Tubuh manusia dibagi menjadi 4 bagian Bagian atas pusar adalah bagian laki-laki dan bagian bawah pusar adalah perempuan. Berikut bagian kanan tubuh laiki-laki dan bagian kiri tubuh adalah perempuan
Kita mengenal : Tuni – Mahu – Moni – Marna masing-masing dengan fungsinya dan kepala mewakili seluruh tubuh.

Contoh :
•Akar Kelangit = Lima ( atau Rima ) = tangan
•Lingkaran Tengah Sekitar Pusar Manusia = Huse ( atau Puse ) = Pusar – Pusat, Pemusatan Sorotan.
•Akar ke bumi = Jai ( atau Ai atau Ae ) Kaki

“ Lima atau tangan adalah akar yang meraik hal-hal spiritual seperti akar tanaman perolin air dan makan ”
( Kita harus berjalan dengan kaki telanjang untuk memperoleh kekuatan dari bumi yang memasuki tubuh Kekuatan kakimu adalah kekuatan Pisik dari pada tubuhmu ) juga bila kita adakan hubungan dengan Roh yang maha tinggi atau dengan Leluhur.

Hingga hari ini orang Nasrani, bila berpakaian adat dengan berpakaian adat memasuki Gereja degan kaki telanjang. Juga dengan Orang Muslim memasuki Mesjid dengan kaki telanjang, Juga dengan orang Hindu dan Budha memasuki Tempay ibadahnya masing-masing dengan kaki telanjang.

Dari jari dibagi dalam dua bagian yang seimbang : Ibu jari dan empat jari yang lain (1+4) satu mewakili Pencipta alam semesta(ASA) Empat Jari-jari Telunjuk Tengah Manis dan Kelingking Mewakili keempat fungsi manusia didalam alam, dan selanjutnya empat dibagi dalam dua bagian yang seimbang empat ini dalam satu dan tiga. Satu sebagai Manusia awal atau Alif Uru atau Jari kelingking dan fungsi tiga yaitu jari telunjuk dalam arti bulan ( penghantar bumi bulan menunjuk jalan pada kita), Jari tengan dalam arti Matahari ( Matahari adalah tinggi), dan Jari manis dalam arti Bumi ( dekat pada jari kelingking bumi melahirkan manusia). Kedua Fungsi tersebut antara satu dan tiga mewakili alam

Note : Konsepsi yang sama dipergunakan untuk jari – jari kaki

URU KEPALA
•Mata ( MA’A ) : Mata Api kehidupan atau mati ( Mata juga berarti mati atau kematian)
•Heulo ( Keulo : Rambut-medium-perantara sentuh rasa-hulu) Mereka menemani kulit
•Nuru ( Nusu-Eu-ru) : Mulut-pintu Spiritual ( Lobang pintu Nuku ) kekuatan tubuh pintu masuk dan keluar : apa yang keluar dari mulut mempunyai kekuatan spiritual apa yang masuk memberkan kekuatan pada tubuh.
•Tirina ( Tilina,Terina-Erina) : Membuat evaluasi dan seleksi

Iri ( irin-ili ) : Hidung – mewakili ke empat indra-adalah pintu nafas, masuk dan keluarnya enersi, Hidung menunjuk manusia arah yang harus di tempuh.
1.Mata – Api – Utara
2.Rambut – Air-Barat
3.Mulut - Udara - Timur
4.Telinga - Bumi – Selatan

Hidung – Roh ( Spirit ) mewakili keempat di tengah tengah
Dikepala terpusat kelima indra : Penglihatan – Raba-Rasa-Dengar-Cium- Hirup

Kepala adalah tempat kediaman nyawa ( Soul ) berlokasi di otak yang memberikan kesadaran pada manusia.

Kepala mewakili : Seluruh tubuh – bisa merupakan tubuh satu orang – tubuhnya sendiri, atau bisa juga lebih dari satu tubuh manusia : sekelompok yang tergabung dalam satu kesatuan hidup bersama dalam masyarakat, seperti satu suku, bila ada satu negeri ada juga satu kepala.

Negeri diwakili oleh 4 Uli, dan dibagi lagi masing-masing dalam 4 Ama atau Hena. Diperincikan lagi dalam Rumah Tau dan sebagainya. Masing-masing mereka mempunyai seorang kepala, tetapi kepala yang utama adalah kepala negeri. Apabila kepala ini berfungsi, Bagian-bagian kecil dari tubuh social juga berfungsi”

Kepala adalah yang mewakili Tubuh. Kepala telah menunjuk kepentingannya sewaktu kelahiran tubuh sewaktu kepala keluar pertama.

URU DIDALAM NEGERI
Kita telah melihat dalam kata awal bahwa Siwa Lima diidentifikasikan sbb : Sumber asal yang totalitas Asa secara Fungsional dipecahkan dibagi didiferensifikasilkan bertumbuh dalam diversifikasi menuju ke sublemasi ke totalitas kembali – diikuti itegrasi sebagai konstan, tubuh social ( kerangka dasar ideal)memberikan demonstrasi padanya. Didalam tubuh ini dengan fungsi-fungsai dasar serta indentitasnya setiap Uru juga mempunyai fungsi dasar dan identitas.

Untuk dapat mengerti satu negeri (satu wilayah tanah yang luasnya bisa kecil bisa juga mencakupi seluruh pulau) kita harus kembali ke asal mulanya. Maka kita memiliki tanah, dikumpulkan tiga saudara dengan keluarganya dan dengan membangun satu negeri.
Pada awal asal : Asa

Totalitas dari pada negeri ( Tanah diduduki manusia )
Asa pertama tama dipecahkan menjadi dua bagian : Ina bagian Lelaki dan Ama bagian Perempuan bersamaan INAMA.

Setiap ( Lelaki dan Perempuan ) bagian dibagi lagi menjadi dua bagian, maka tampilah empat fungsi atau empat Uli Suku Keempat Uli bersamaan boleh disebut ULIESE ( Uliase adalah juga nama dari pada sekelompok pulau di bagian selatan Pulau Ceram, Sebag ULIASE berarti : Betapa banyak pun jumlahnya Uli, Mereka tetap adalah satu.

Setiap Uli mempunyai fungi dasar :
•Uli marna – Evaluasi , Eliminasi
•Uli Tuni – Kekuatan Phisik
•Uli Mahu – Circulasi, Infrastuktur
•Uli Moni - Energi mental dan Spiritual

Maka dalam berbagai Uli, kita temukan individu Uru dengan berbagai fungsi misalnya :
•Uli Marna – Hakim, Pesuruh negeri ( Marinyo )
•Uli Tuni – Prajurit Perang, Para tukang berbagai profesi
•Uli Mahu – penghubung, pedagang
•Uli Moni Para imam, Para Pendidik

Setiap Uli mempunyai identitas khusus yang menentukan fungsinya
ULI MARNA ( Perempuan ) HITAM Selatan Bumi ( UPU YAMA AE) TANAH Jari manis Kotoran Pata Lima Kali : Tala
ULI TUNI ( Lelaki ) MERAH Utara Matahari ( UPUTAHOLA) API Jari tengah Placenta Pata Siwa Hitam Sapolewa.

ULI MAHU (Perempuan ) HIJAU Barat Bulan ( UPU ILA KEE ) AIR Jari Telunjuk Air Ketuban Pata Siwa Putih Eti
ULI MONI ( Perempuan ) KUNING Timur Manusia Awal ( Alifuru ) Hawa ( Udara ) Jari kelingking Nafas Hidup ( Teriak Pertama Kakehan Waela Butui

Setiap Uli dipimpin oleh satu Malesi ( Ama Lesi –Ama = Bapa Lesi = Jangan Melanggarnya Dia akan Membunuhmu)

Yang tertua dalam umur pangkat keturunan dari empat Malesi pada umumnya dikenal sebagai yang mewakili keempat malesi.

Keempat Malesi mewakili seluruh tubuh dari pada negeri, dan satu diantaranya yang diakui mereka bersama- adalah kepala dari pada tubuh tersebut.

Note : Dahulu setian Negeri hanya mempunyai 4 Malesi, yang kemudia disebut Perdana ( Abad ke XVII)

Setiap Uli didiferensifikasikan lagi kedalam empat Amana tau Hena ( Turun-temurun )
•Aman ( Atau Hena ) Latu ( Atau Aman Asa)
•Aman ( Atau Hena ) Pati ( Atau Aman Rya)
•Aman ( Atau Hena ) Telu ( Atau Aman Telu )
•Aman ( Atau Hena ) Orela ( Atau Aman Wala )

•Asa = Satu ( Totalitas, tunggal = Kuasa )
•Rua = Dua ( = Hua – Penampilan – Wajah )
•Telu = Tiga ( Kuasa yang dapat datangkan Maut )
•Wala = Empat (Menjadikan trubuh lengkap)= Hale - Hate – Hata

Setiap Aman ( Atau Hena ) Mempunyai fungsi dasar dan identitas Khususu diselenggarakan oleh :
•Aman Latu - Fungsi-ULI MARNA-Dilambang - Hitam (= H)
•Aman Pati - Dan - ULI TUNI - Kan - MERAH ( =M)
•Aman Telu - Identitas - ULI MAHU - OLeh - Hijau ( =H)
•Aman Orela - dari - ULI MONI - Warna - Kuning ( =K)

Didalam differensiasi dari keempat Amana tau Hena terdapat pribadi Uru dengan Berbagai differensiasi untuk menjelaskan konsepsi ini. Maka sebagai contoh : Apabila Uru bersangkutan dari Aman Latu dan Uli Marna, Maka warnanya adalah Hitam – hitam, dan jikalau dia dari Aman Pati dan Uli Marna, Warnanya adalah “ Merah – Hitam, apabila dia dari Aman Telu dan Uli Tuni, Maka Warnanya adalah : Hijau Merah, apabila dari Aman Orela dan Uli Mahu dia Adalah : Kuning- Hijau dan seterusnya..
Setiap Amana tau Hena dipimpin oleh seorang Aman ( Ama=Bapa ) Didalam setiap Uli Aman yang tetua akan dikenal sebagai Kepala dari Keempat Aman Tubuh.

Dalam hal ini Identitas warna yang murni adalah yang tertua :
•Aman Latu dalam Uli Marna ( Hitam- Hitam )
•Aman Pati dalam li Tuni ( Merah Merah )
•Aman Telu dalam Uli Mahu ( Hijau Hijau )
•Aman Orela dalam Uli Moni ( Kuning Kuning )

Dengan Pangkat atau Gelar ( Latu - Pati - Telu - Urela ) Pada Tingkat Uli atau Negeri .
Maka setiap Negeri mempunyai 4 Aman Latu ( Gelar ) , Aman Pati ( Gelar ), Aman Telu ( Gelar ) Aman Orela ( Gelar ) tetapi hanya satu Latu Satu Pati Satu Telu Satu Orela.Setiap Aman sebagai Satu Tubuh Mempunyai hanya satu Kepala. Untuk mengindentifikasi individu yang bersangkutan maka gelar disusul oleh nama pribadi, gelarnya dalam perang atau nama negeri ( dan ada kalanya lebih dari pada satu dpergunakan ).

Setiap Amana tau Hena Didiversifikasikan lagi dalam Rumah Tau ( Rumah Asal Usul ) SOA atau Keturunan.
Setiap Rumah Tau juga mempunyai Fungsi dasar dan suatu identitas khusus mengikuti pembidangan ke empat fungsi.

Maka Sebagai contoh : Setia[ Rumah Tau dari ke empat Rumah Tau yang merupakan bagian dari pada Rumah Aman ( Atau Hena ) Latu dan Uli Marna adalah Masing – masing : HHH MHH Hj HH KHH ( H= Hitam M =Merah Hj=Hijau K= Kuning ) Keempat Rumah Tau dari Aman ( atau hena ) Telu dan Uli Tuni ,
Masing – masing adalah : HHj M Hj M Hj Hj M K Hj M dan sebagainya

Fungsi dasar dan identitas kusus dari Rumah Tau nya sendiri menentukan bidang fungsi dan identitas dri pada URU sebagai Individu! Rumah Tau sewaktu – waktu juga disebut SOA ( = Lanjutan Keluarga , Kampung) Penampilan ini terdapatnya sekarang SOA ( Rumah Tau ) Dipimpin oleh Kepala Soa .

Note : Kini hari yang disebut negeri dibagi dalam berbaga jumlah Soa, yang terdiri lagi dalam kelompok Kubu atau Kampung dibawah Pimpinan Seorang Kepala Kampung yang terpilih.

ASA

Asa, Esa. Ase berarti Totalitas ( dalam ruang lingkupnya masing-masing)
Note : dalam Bahasa Indonesia

1. ASA : Yang Tunggal ( ALLAH )
2. ASAL : Asal, Kelahiran, Sumber, juga asal keturunan, kelahiran, Asal usul.
3. ASAS : ( Azas dalam bahasa melayu) dasar, akar, prinsip, landasan.

Konsepsi dari pada ASA dikatakan : adalah kudus, tidak terikat pada dimensi papun, adalah kekal, dan konsepsi ini membentangkan ALLAH terbagi tiga Langit, Roh Allah dan Bumi. Langit terbagi lagi menjadi Hawa dan Udara. Dan Bumi terbagi lagi menjadi Air dan Tanah sedangkan Roh Allah berkuasa atas Alam Semesta. Asa sebagai Pencipta Alam semesta KAPUA UPU ILA KAHURESSI. Asa sebagai empat element besar dari pada alam semesta yang disatukan oleh kuasa Roh. Asa sebagai manusia Mahkota Ciptaan Allah diantara Langit dan bumi tercakup Hesam Hesa.

Apabila dipergunakan angka (sesuai jari-jari tangan) maka 9 merupakan totalitas. Sembilan ini bermuka dua : 9 sebagai 4+5 dan 9 sebagai 5 + 4 = Asa 1 + 4 mewakili kuasa Allah dan keempat elemen. 5 disebut Lima, dan pelengkap ke 9 adalah Siwa ( Siwa tidak berarti angka 9 sebagai totalitas tetapi pelengkap dari pada 5 menjadi 9 ). Di dalam alam semesta manusia adalah penampilan dan konsepsi serta model ( kerangka dasar ) dari pada totalitas ini.

1. Asa ( sebagai Manusia ) di dalam alam
2. Asa ( sebagai manusia ) di dalam tubuh kehidupan masyarakat ( negeri )
3. Asa ( sebagai manusia ) d dalam tubuh pribadi ( identitas fungsi primair )

Ketiga aspek tersebut dari pada Asa dilambangkan pada penampilan dari Matahari

• Asa didalam Alam : Matahari, Bulan dan Bumi > 3+1 ( manusia ) Siwa Hitam
• Asa di dalam Negeri : Uli Warna, Uli Tuni, Uli Mahu, Uli Moni > 4+1 ( manusia ) Lima
• Asa di dalam Manusia 3 Kapitan : Lete, Haha, Hoho > 3+1 ( Manusia ) Siwa Putih.

Ketiga Kapitan adalah lambang, mereka mewakili 3 tingkat perkembangan. Fungsi-fungsi : Siwa Hitam, Lima , dan Siwa Putih. Ketiga asapek dari pada Asa di dalam Alam Semesta ( Universus )
Mewakili Asa 1+ 4 , kuasa Allah dan keempat elemen.

• Asa 4+5 = 9 ( satu wajah dari pada 9 )
• Asa 5+4 = 9 ( wajah yang lain dari pada 9 )
• Asa 9 dalam dua wajah ( kedua wajah dari pada 9 bersamaan )

HEKA LEKA

Heka Leka adalah bagian integral dari pada ASA, suatu hukum kekal yang mengatur alam semesta dan perjalanan yang menjadi tujuan manusia.

Heka berarti = Pemecahan,Pembagian,Perang
Leka berarti = Kelahiran, Kelahiran Ulang, Kelahiran Baru

Hukum " Heka Leka " menjelaskan dan membenarkan prisip pembidangan, pembagian differensiasi,diversifikasi, bertumbuh untuk kembali ke TOTALITAS. Asa yang totalitas di dalam alam semesta, didalam alam, di dalam ruang lingkup hidupnya masyarakat,, didalam manusia harus Heka : perpecahan harus berlangsung terus hingga tercapai puncak titik sublemasi ketika kemana lahir Leka : Kelahiran baru. Cara pendekatan dan pengungkapan dari pada Heka Leka adalah konsepsi yang sering kita pergunakan di dalam lingkungan masyarakat SIWA LIMA tiga contoh akan diberikan di sini. " Anda dapat melihat gunung di dalam sebuah pasir " Pada skala alam semesta, dikatakan bahwa manusia, lingkungan masyarakat, alam ( masing-masing mereka adalah Asa ) adalah bagian tak terpisahkan dari pada totalitas Asa yang menyeluruh atau ALLAH dengan penampilannya :" ALAM SEMESTA " mengikuti hukum Heka Leka, ialah untuk memelihara perimbangan serta untuk mencapai harmoni : Wajah Penampilan Alam yang kekal.

HEKA LEKA di dalam Manusia

Mengikuti manusia sebagai Asa, maka ketiga fungsi tampil didalamnya :

1. Siwa Hitam : Intellect ( Mental Power )
2. Lima : Sentiment ( Jiwa Rasa )
3. Siwa Putih : Vitalitas ( Nafsu )

Setiap Anak Bangsa ALIFURU yang baru lahir memiliki ketiga " Fungsi " ini. Bukti yang pertama adalah vitalitas yang mendukung sang bayi menghadapi tantangannya Heka untuk hidup. Berikut tampil Sentiment, dan mulai di dalam dirinya perkelahian Heka antara kedua fungsi tersebut dan tak lama kemudian disertainya oleh intellek yang turut bergabung di dalam Heka secara terus menerus : Intelek dan Vitalitas melawan Sentiment Intelek,begitu juga Sentimen Melawan Vitalitas dan seterusnya Vitalitas dan Sentiment melawan Intelek.

" Makanya orang Alifuru dalam hal ini maluku Selalu senang berperang dan Orang Maluku suka perang. Mereka rupanya sewaktu lahir sudah makan warisan peluru para leluhur – leluhur dan tetua tetua adat turun temurun dari mulut kemulut. Bangsa Maluku punya hati , jiwa dan rasa lebih dari putihnya salju,karena sejak lahir sudah dianugerahkan para-leluhur-leluhur sebuah mahkota LIMA : Sentimen ( Jiwa Rasa ).Dengan demikian mulut kemulut maka pandai bernyanyi dan mempunyai jiwa dan rasa saling bertentangan sehingga menghasilkan suara yang merdu Orang Maluku adalah orang orang yang pandai bernyanyi. Demikian semua terjadi dari zaman ribuan tahun sampai dengan sekarang ini " .

Ritual pengukuhan sebagai kakian ( atau KAKEHAN ) hendak memperkenalkan pada remaja lelaki pengertian spiritual dari pada hukum alam semesta mengikuti ajaran Mauwen ( Imam Besar ) di tuntun oleh kedua saksinya ( Masela ) dia dapat berlayar bagaimana dipelihara perimbangan ketiga fungsi alam di dalam dirinya dengan mempergunakan kuasa Roh yang disebut : " Tiang Keempat yang tidak Kelihatan " yang mengantar ketiga fungsi yang lain mencapai Asa kembali melalui kehidupan baru ( Leka ) dari Dia yang di kukuhkan.

HEKA LEKA DALAM LINGKUNGAN MASYARAKAT

Ketiga kelompok Pata ( Atau Clan ) dari persekutuan Siwa Lima adalah Pata Siwa Hita, Pata Siwa Lima, Pata Siwa Putih. Sejarah maupun sesuai arsip atau cerita turun temurun, meninggalkan jejeak hingga jauh kemasa lampau tentang tidak pernah terhentinya kelahiran dan perang antara kelompok – kelompok yang bersaudara itu. Mereka itu " Manusia Perang….. dan manusia Potong kepala yang kejam…. Anak-anak dari hutan….. pun tidak takut pada maut..dan memiliki suatu kepercayaan yang mencakupi konsepsi kelahiran baru yang hidup kekal dan mengenal satu Allah Yang Maha Kuasa.!"

Teriak Perang adalah "Heka Leka"! yang dalam hubungan ini berarti : " Berperang Bunuh untuk dilahirkan Baru " Ditambah pada fakta bahwa kepala di perlukan untuk membangun bangun bangunan penting dan untuk upacara-upacara, Hukum Heka Leka membenarkan Fakta Bahwa : " Pata Siwa Hitam harus adakan perang melawan Pata Lima karena hidup baru " Hanya Pata Siwa Hitam diketahui mengikuti ritual inisiasi ( dikenal pada tatoo yang tergores pada bagian atas dari pada tubuh mereka) maka hanya melalui potong kepala " HEKA " Pata Lima dapat mencapai hidup baru " Leka ". Nanti kita akan melihat ( Lihat Kapata ) bagaimana kepercayaan ini menegaskan melalui tradisi yang diturunkan dari mulut ke mulut.

HEKA LEKA DI DALAM ALAM

Casava ( Kasbi atau ketela pohon ) sesudahnya sagu adalah tanaman makanan pokok daerah MALUKU.
Batangnya di potong ( Dipecah-dibagi ) dalam beberapa panggal ( ditanam setiap panggal untuk memperoleh tanaman baru ) Adalah Heka. Pda waktu panennya terdapat gerak operasi ganda : ialah pembersian tempat dan mengeluarkan isinya di sebut Leka. Karena batang tanaman asli dibagi-bagi dalam panggal-panggal : HEKA setelah bertumbuh dan seluruh menjadi panen baru : LEKA

source : https://www.facebook.com/groups/659900234024558/permalink/789131857768061/
Share
Read more »

Bale Ka Atas

 
abis baca komentar sadiki jua | biar katong baku kanal | salam hangat | par dong samua